Rabu, 10 Juni 2009

EMANSIPASI WANITA

(catatan atas film “ IBU, BECAKKU”)

Keterbukaan, modernitas, kemajuan sains dan pemikiran telah meretas batas-batas kelamin antara laki dan perempuan. Kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki, telah memberikan peluang bagi mereka duduk bersama tanpa ada sikap diskriminatif. Sektor lapangan kerja telah terbuka untuk kaum hawa, dan semula didominasi kaum pria. Teknisi, driver, direksi, adalah jabatan yang saat ini banyak diduuki kaum hawa. Bahkan di kota ini ada penarik beca berjenis kelamin wanita Adakah yang salah baginya? Tentu tidak ada. Namun persoalan akan melingkar pada masalah humanitas (kemanusiaan) dan ketidak adilan nasib.

Perempuan, seorang ibu menjadi penarik beca untuk membiayai pendidikan anak perempauannya yang menempuh pendidikan di sekolah menengah. Why not? Dalam hidup serba memungkinkan lebih-lebih di era yang mengoabrkan kesetaraan jender. Sebuah persoalan yang coba diangkat oleh anak-anak kelas X-8. Mereka mengangkat kehidupan seorang perempuan penarik beca melawan beban kemiskinan yang menjeratnya. Film berdurasi 4,5 menit ini dibuka dengan close up perempuan yang tengah terpekur di teritis rumah yang lebih apntas disebut gubuk. Ada airmata berlinang untuk menegaskan penderitaan yang dalam. Namun sayang dalam adegan ini sang tokoh tidak meengekspresiakan dalamnya penderitaan kecuali hanya sbeuah tatapan kosong dan air mata buatan (buaya) yang kentara di depan kamera.

Sayang, gambar-gambar dalam film ini kurang sempurna, sehingga agak mengganggu terhadap ekspresi para pemain (dua perempuan ) yang berperan sebagai ibu dan anak. Ridha (sebagai ibu) dan Vera (sebagai anak). Jalinan kehidupan yang lazim seorang remaja belia yang kadang tidak paham akan kesusahan dan penderitaan orangtua. Anak dengan dunianya ingin memenuhi segala tuntutannya, sementara ibu dengan beban berat berusaha menanggung derita demi kebahagiaan anak semata. Mengayuh becak mengantarkan penumpang ke berbagai tujuan. Sebuah perjuangan berat seorang ibu, tanpa pernah diketahui anak perempuannya. Hal ini baru diketahui anak ketika ending dalam film ini si ibu menuturkan pada anak untuk tidak menyia-nyiakan uang yang diperoleh dario kerja berat menarik beca.

Jalinan kisah yang sederhana namun tidak sederhana makna di dalamnya. Pertama, betapa berat beban seorang ibu ketika ditinggal suami dan menanggung beban pendidikan anak ygaang tidak ringan. Sebuah ingatan bagi segenap lembaga pendidikan untuk benar-benar memahami kesulitan orangtua siswa. Kedua, berat dan susahnya pekerjaan sebaai penarik beca. Namun kita memandangnya dengan sebelah mata. Hampir dapat dipastikan, ketika kita naik beca tidak pernah membayar ongkos naik beca, sesuai dengan permintaan abang beca. Kita mesti menawar dengan harga yang lebih rendah. Pada hal kita tahu, menarik beca memakai tenaga manusia. Ketiga, tidak keinginan dari mereka bercita-cita jadi tukang beca kecuali karena kondisi yang akhirnya menggiring ke sana.

Jangan rendahkan mereka, karena tidak sedikit di antaranya berhasil menuntaskan pendidikan anaknya sampai jejang perguruan tinggi. Mereka ada di antara kita. Itulah barangkali pesan mulia yang ingin disampaikan oleh anak-anak kelas X-8 melalui gambar bergerak. Lewat pilem yang mereka bikin dengan cinta dan rasa bangga. Selamat berresital!!!!

(Hidayat Raharja, Guru, Esais, dan Pengelola Blog SAVANT; Anak – Anak yang Tak Bi(A)sa Menulis Tapi Berani menulis)

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

 

TANAH KAPOR | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates