Rabu, 24 Juni 2009

SILAU

Hati mata..

Mata hati..

Dan hati-hati mata kita

leburkan air mata di atas kata-kata


*teateristico

Congngo'lah...

....KOMPAK DAN AIR MATA

Catatan panitia resital IV

......

Dengan keplek di dada,

Kau pertaruhkan plus minusmu diajang kreativitas

Milikku dan punyamu

Beradu dalam kebersamaan...

Minggu malam, agenda rutin tahunan terlaksana dengan acara pembukaan resital IV dan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Sebenarnya geliat panitia resital IV sudah melakukan persiapan sekitar satu bulan sebelumnya. Persiapan untuk mendapatkan anggaran pembiayaan, pembentukan panitia dan memantau perkembangan hasil karya atau materi resital IV dari masing-masing kelas dilakukan dengan baik. Kekompakan bekerja dan tupoksi kerja masing-masing dikerjakan dengan baik, walaupun ada beberapa panitia yang memang belum siap mengemban kerja dengan semangat guna mensukseskan acara resital kali ini.

Diskusi, sharing dan provokasi untuk menjadikan semangat yang satu ”sukseskan resital IV” selalu didengungkan dan ternyata memang demikian kenyataannya, mereka siap untuk bekerja, meluangkan waktu dan menumpahkan seluruh energinya guna menyelenggarakan acara resital IV dengn sukses secara materi karya, penyatuan visi kerja, kenyamanan suasana resital, keamanaan bahkan menjaga imaje resital tetap menjadi ajang kreativitas siswa SMA Negeri I yang baik dan terbaik.

Dengan keplek di dada,

Kau sirami kesejukan di hati mereka...

Hiruk pikuk kerja dengan lalu lintas panitia yang maksimal, dan hampir setiap hari bekerja dan bekerja. Tanpa mengendorkan urat syaraf, mereka benar-benar orang pilihan untuk menumbuh suburkan kreativitas seni ini untuk bisa eksis kepermukaan. Perusahaan, instansi dan donatur mereka loby untuk mendapatkan recehan dana agar seluruh persiapan resital bisa teratasi.

Pihak sponsor yang mau mendukung acara resital IV kali ini diantaranya : Trisakti Yamaha Motor, Coca cola, Sophie Martin, BPRS, kantor Pos Sumenep, Srikandi, El Malik, AMC. Pihak penyiaran yang memperlancar pempublikasian acara resital IV yakni Stasiun RRI Sumenep, Karimata FM dan TV lokal Madura Chanel. Universitas Negeri Surabaya sebagai sebuah lembaga pendidikan perguruan tinggi ikut ambil bagian pada acara Resital. Kanwil Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur dengan mengirimkan nara sumber di bidang sinematografi pelajar, ikut memberikan pencerahan proses belajar sinema dan membuat movie makers smansa lebih memahami dunia seputar film pelajar. Hubungan kerjasama yang terjalin pada acara Resital IV kali ini dapat diharapkan sebuah awal komunikasi penyangga pendidikan dengan pihak sekolah yang memang perlu dilakukan. Tak lupa memang pada kesempatan kali ini panitia resital IV mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama dan dukungannya, sehingga resital kali ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan resital.

Dengan keplek di dada,

Segala kegalauan hati menyatu di ragamu...

Dikomandani oleh Jenny Faradillah sebagai ketua panitia Resital IV dan didukung bayu (toekang apabai elakone), nanda (se nyatet pesse), Putri (e kabuto tanda tanganna), Iwid (ajilid gabus), Fery (tokang ngekkek film), Rio (song ngosong barang), Anang (se bingong malolo), Pras (tak etemmo buntokna), Daine (gun sem mesem malolo), Mada’i (tokang parkir), Andi (maodik lampu), dedy (ngator se apentassa), Fitri ban Uri (asalaman moso tamoy) dan yang tak kalah sibuknya pembina-pembina resital, agus teater (tokang ngok marongok n karebba dhibik), Hidayat Raharja (aneng peneng moso ulasan) dan udin (pemandu sorak= se tokang nari bila pertandingan basket). Saling merespon dan mengingatkan selalu menjadi santapan sebelum dan sesudah acara resital. Masukan-masukan bagaimana mengembangkan acara resital lebih lanjut, menjadi wacana yang selalu mengemuka diantara kami semua.

Diluar hingar bingar dengan musik dari audio kecil di masing-masing mading kelas, dan di kepala para panitia bising dengan segala persoalan yang terjadi selama pelaksanaan resital IV. Masalah demi masalah muncul, persinggungan-persinggungan egoisme juga subur, namun semua dapat diatasi dengan kerja dan kerja guna kesuksesan acara siswa untuk siswa ini.

Dengan keplek di dada,

Air mata melegakan resah...

Nampak di depan kantin sekolah, duduk jongkok dengan HP ditangan, namun pandangan kosong dan gelisah yang membeku. Wajah suram dengan gundah yang mendalam...pyur...air mata bersimbah diantara kepiluan dan....puas...puas...puas....ketua panitia resital IV pada malam penutupan acara resital IV malam itu.

Banyak memang...

Dan sudah sempurnalah peristiwa demi peristiwa berlalu

Mengisi lembaran-lembaran

Dengan cerita yang membuat bibir tersenyum

Dengan air mata yang mengalir

Dengan hati yang pilu

Dan memang...

Tingallkan keplek....

Tutuplah lembaran ini dengan goresan di hatimu


*agusteater
Congngo'lah...

INDIE

; catatan sisa resital smansa IV

Membuat film bagi anak-anak remaja di jaman sekarang bukan hal yang sulit, sehingga setiap tahun selalu ada kompetisi diselenggarakan untuk mewadahi kreativitas kaum muda. Beberapa lembaga atau komunitas menyelengarakan kompetisi film yang bersifat bebas, dalam artian semangat yang berbeda dengan kelaziman yang ada (industri). Hal ini amat sering di lakukan di jalur musik, yang dikenal dengan musik indie. Musik yang b ergerak dan beredar di luar mayor label. Sebuah gejala baru yang memungkinkan munculnya kreativitas tak terduga dan menjadi alternatif tayangan yang bisa memberikan hiburan.

Hadirnya musik indie merupakan sebentuk perlawanan terhadap dominansi industri yang menetukan bentuk kreativitas sehingga mengkooptasi kreator untuk mengikuti kehendak industri. Situasi menekan, sehingga kemudian lahir karya yang monoton, seragam. Kondisi ini dapat dilihat pada perkembangan industri musik saat ini. Setiap muncul kelompok musik baru yang memberikan keuntungan bagi industri musik atau rekaman, maka akan segera dibuat lagu semacam itu dalam berbagai versinya. Semuanya semata hanya untuk mendapatkan keuntungan semata. Ketika mereka terjerat dalam gurita industri, tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman dan menjadi sapi perahan yang dikendalikan pemilik modal. Mereka tak ubahnya seperti budak belian yang harus tunduk kepada tuannya.

Puncak tekanan yang menimbulkan kesadaran bagi musikus muda. Mereka kemudian melakukan perlawanan perlawanan untuk memberikan alternatif terhadap kemonotonan yang dikendalikan oleh industri kapital, pemilik modal. Lahirlah kelompok-kelompok musik indie yang bertumbuhan di berbagai tempat. Mereka kemudian bergerilya untuk memproduksi musik dan mendistribusikan sendiri tanpa melalaui perusahaan ternama Fenomena yang cukup menarik, pertumbuhan musik indie mendapat tempat di kalangan kaum muda. Kondisi yang kemudian dibaca oleh industri rokok dengan mengadakan festival musik indie. Sayangnya pemenang festival ini kemudian kembali memasuki pasar industri musik yang terjebak pada selera pasar.

Salah satu fenomena musik indie di Indonesia yang mencuat belahan dunia luar, kelompok musik underground di Ujungberung – Bandung. Kelompok musik ini mampu membangun jejaring di dunia maya dan mampu berkolaborasi dengan musisi Amerika. Hebatnya lagi kelompok indie yang mereka kelola, mampu membangkitkan home industri untuk industri kaos dan remakan musik, mampu membangkitkan perekonomian masyarakat.

Indie = perlawanan terhadap kemapanan industri kapital. Sebuah ruang yang memungkinkan kaum muda untuk menumpahruahkan segala ambisi keinginan dan kreativitas dalam berbagai bidang. Hadirnya film Indie menyegarkan kondisi perfilman yang monoton, apalagi menghadapi tayanagn sinetron yang dijejali dengan pelbagai sampah industri kreatif. Di tangan kaum muda, film-film indie memberikan alternatif tontonan untuk melawan kebusukan sineteron dan film yang berorientasi pada keuntungan belaka, tanpa memperhitungkan pengaruh kepada penontonnya.
Film indie dalam resital smansa IV di SMA Negeri 1 Sumenep cukup menarik. Jika dibandingkan dengan produksi fiolm pada tahun-tahun sebelumnya, produksi tahun ini jauh lebih bagus dan ide menantang. Ide-ide mereka sebagian besar mengambil tema-tema yang dekat dan lingkungan sekitar. Tentu hal ini membutuhkan waktu dan perhatian lebih untuk bisa mengembangkn mereka ke titik puncak kreativitas yang lebih menantang. Setidaknya disini (SMANSA) mereka telah menimba pengalaman mengenai film Waktu yang akan mematngkan, karena jalan tempuhan mereka banyak bercabang, entah kemana mereka akan melangkah, setidaknya pengalaman ini memberikan bekal apresiasi terhadap dunia film dan dunia nyata yang mengahdang di hadapan. Good bye!!!

Hidayat Raharja, Guru, esais, pengola blog “SAVANT” ; anak-anak yang tak bi(A)sa menulis, tapi berani menulis. Congngo'lah...

Selasa, 23 Juni 2009

PISANG BAKAR...DI CAFE KATES

Malam ditaburi gemintang

Kaki-kaki menapaki lorong petang

Jarum-jarum cemara menjahit bulan

asap pisang bakar dengan kopi ditangan

Temani resital jelang malam

.....

Beberapa potongan tikar untuk lesehan di tempat parkir banyak anak yang berkerumun, melepas kangen, menakar pengalaman, dan ada juga yang berdiskusi kecil mengenai pelaksanaan resital dari tahun ke tahun. Teman-teman teater kates melayani seluruh tamu yang memesan menu di cafe kates. Dengan layanan yang penuh senyum, namun juga nampak ada beberapa forum diskusi kecil seputar karya yang ditampilkan di resital IV. Tak nampak keluhan-keluhan keluar, yang ada hanya semangat dan semangat untuk menata penampilan kelasnya masing-masing.

Sebelum acara di aula dimulai, sederet kendaraan bermotor diparkir di lapangan basket, dan sementara crew cafe menanti pembeli dan sederet mading tiga dimensi diapresiasi oleh warga kelasnya masing-masing. Kongkow-kongkow dan sesekali terlihat percintaan diantara mereka. Ya mungkin memang jaman sudah bergerak cepat sehingga apa kata petuah Madura Bappa, Babbu, guru, rato tak lagi masuk diwacana mereka. Cuek dan dicuekin terhadap guru, pura-pura tidak tau kalau memang ada panitia, dan yang paling menyebalkan mengulangi apa yang sudah diinformasikan oleh seluruh pihak, namun memang begitulah rata-rata karakter anak-anak sekarang ini.

Panitia berkumpul di ruang multi media, mempersiapkan segala sesuatu untuk kepentingan resital dan mengevaluasi apa yang perlu dikerjakan. Rutinitas tiap malam sebelum dan sesudah acara resital. Akupun memulainya dengan susunan acara, mengingatkan tugas masing-masing dan apapun bentuk kejadian dan informasi yang terjadi di luar ruang aula secepatnya diinformasikan padaku. Dan lampu aulapun berubah ke lampu panggung, menunjukkan acara mulai berlangsung.

Lampu cafe kates masih menyala,

dan crew cafe menanti dan melayani pembeli....

sambutan demi sambutan dari masing-masing ketua panitia kelas dan wali kelas, mewarnai rutinitas tiap malam di ruang aula. Hal ini untuk membuka tali silaturahmi dan mengapresiasi karya dari putra-putrinya. Suasana komunikasi antar orang tua siswa terjalin dengan suasana santai karena ruang aula ditata apik dan ada sedikit camilan dan minuman yang sudah disediakan oleh panitia kelas. Sambil menikmati acara suguhan karya film dan teater, semakin penuh maknalah acara resital tahun demi tahun digelar.

Lampu cafe kates masih menyala,

Sementara ruang-ruang kosong disudut-sudut yang gelap

Nikmati malam dengan kehendaknya masing-masing...

Ngrumpi, mojok, mpacaran, tengkar, asap mengepul....dan hal-hal yang diinginkan...menjadi fakta dan kenyataan malam berganti malam. Namun banyak juga yang serius memantau dan mengapresiasi ruang kretif yang sudah empat kali berjalan ini. Memang laporan demi laporan dan penjelasan demi penjelasan dari seksi keamanan mampir ke telingaku dan akupun marah besar saat malam itu, bulan menjadi saksi dan angin semilir membutakan mata... kejadian yang menggelapkan resital, antara kebimbangan dan keinginan, hampir rasanya aku menangis, kenapa...kejahatan moral merusak tatanan estetika yang aku bina ini... inilah catatan terburuk karena ulah hati yang buta.

Lampu cafe kates masih menyala,

Mulut-mulut menikmati lesatnya roti bakar

Rasa strabery, coklat, nanas dan aneka rasa metropolitan yang lain

Diresital terlihat para alumni cineas smansa, alumni smansa, penonton dari sekolahan lain, pengangguran yang ingin mencari jodoh, muda-mudi nakal yang mencari kesempatan, anak-anak yang pernah ku kenal untuk mencari musuh agar berkesan macho, dan menikmati seluruh suasana resital dari malam ke malam. Dan suasana musik live dari ekskul musik menciptakan kehangatan di depan cafe kates. Memang hanya satu tahun sekali pelaksanaan resital ini ada, untuk menutup segala aktivitas akademik. Namun ini bukan acara hura-hura, melainkan sebuah rangkaian proses pembelajaran bidang seni budaya, disitu ada tugas yang harus diselesaikan untuk penilaian, baik pergelaran karya teater, penayangan sinema, pameran poster dan batik, serta pameran mading 3 dimensi. Ini sebuah proses yang panjang yang dikerjakan oleh peserta didik terutama kelas sepuluh dan sebelas di SMA Negeri 1 Sumenep. Disamping itu yang paling penting adalah mengajari siswa untuk belajar managemen produksi, melahirkan karya dan mampu diapresiasi oleh masyarakat atau penonton. Itulah harapan dariku untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan resital ini bisa bejalan dari tahun ke tahun, seperti halnya harapan dinas pendidikan kabupaten sumenep yang disampaikan saat sambutan pembukaan dan penutupan resital IV oleh Kepala Bidang Pendidikan Menengah Pendidikan, bapak Dirman.

Lampu cafe kates masih menyala,

Obrolan aku dengan pak Dayat Raharja dan sinse Udin mulai hangat,

Sehangat suasana cafe dari malam ke malam

Rencana dan harapan mengenai resital semakin mengemuka, dari keinginan kita membukukan dokumen-dokumen kegiatan resital pertama sampai resital IV harus terlaksana, mengundang pembicara-pembicara dari luar baik seniman, pengamat dan budayawan, pembenahan ruang pameran, ruang-ruang diskusi yang perlu dibuka, dan memang ivent resital di Smansa inilah yang sudah terakses melalui dunia maya. Aku hanya mampu berharap, seperti harapan kita semua....resital...teruslah berresital....

Lampu cafe kates mulai padam,

Resital pun usai....

Tinggalkan bisu

Kenangan yang terbungkam


***Agusteater....

Congngo'lah...

SESARUNG DIANTARA KAKI YANG TELANJANG

Catatan cafe kates resital IV

Tak kah kau lihat
serombongan anak memasuki ruang berkarpet
dengan langkah pasti
menutupi wajah
bak ninja dengan satu tujuan
membunuh atau terbunuh
....
menanti...
lingkaran waktu menuju ...
dan segala beku menyatu
...
tepuk riuh
"kubangga dengan karyaku", sela seseorang
"kukecewa karena ideku tak sampai", saut seseorang
"aku...hanya bisa diam", lidah kelu seseorang
....
dan rombongan sesarung
melangkah tegap
"aku menang...
diantara kekalahan ini".
...
lampu pun padam
...
matahari songsong seribu harap
diantara pucuk-pucuk bulir padi
dan embun tuntaskan dahaga
karena kau dan aku butuh bersama
...
lagi
dan esokpun kembali

*teateristico Congngo'lah...

TAK ADA LAGI SUARA DI POJOK KELAS ITU

Catatan cafe resital IV


Keluh...
menjadi peluh
catatan tingalkan kenangan
dan daun rebah di tanah kering
....
tak lagi ada suara dipojok kelas itu
sunyi menanti
tak seperti dulu lagi
...
"mengapa kau rebahkan kenangan itu sepekan
lalu kau teriakkan kata bisu ?" tanyamu

"rinduku tak nyala lagi,
saat angin menidurkan bayang imajiku,
dan karyakupun tuntas", kenangmu pada resital.

"kapan kau tumpahkan lagi banyolan-banyolanmu ?,
gugat seluruh kepenatan dari angka ke angka, dari rumus ke rumus,
dan kutemukan pelarian kreativitasku", tegasmu padaku.

plong....

aku kan tinggalkan rerantingku yang kering
di tanah yang subur ini

*teateristico Congngo'lah...

Senin, 22 Juni 2009

RUANG YANG KOSONG

Catatan cafe kates resital IV

Meteor
.....
Ruang dengan cahaya 5 watt
menyisakan daun-daun yang tak lagi berkata-kata
lalu...
kosong yang nyenyat

*teateristico Congngo'lah...

KUJELMAKAN SUKMAKU

Catatan cafe resital IV

seribu gema memenuhi ruang
seratus ide tumpah ruah di lantai licin
sepuluh nafas penuhi telingakata-kata
satu karya yang terbaik
...
aku menari-nari dibalik bayangan cahaya lampu
dan sesekali aku melempar serapah
diantara kekakuan kreativitas
.....
ku jelmakan sukmaku
diantara kepedihan karya-karyamu
.....
dan malam itupun
reranting patah berserak dilantai licin
tumbuh tunas
diantara kesombongan dan keangkuhan ide
menyeruak melalui gambar, kata dan gerak tubuh
...
tepuk riuh gemuruh
piala ditangan
dan senyum
...
sementara airmata
berhamburan
saat keringat tak lagi mengucur makna

*teateristico Congngo'lah...

ANAK –ANAK ANGIN

:untuk sineas muda smansa

Mereka adalah anak-anak

Angin dari kehidupan

Film adalah pilihan

Walau kadang terasa serak

Mereka belia

Bercita merubah dunia

Lewat film meraih cita

Hari esok sejuta warna

Meski muda usia

Dahsyat dalam karya

jangan tinggalkan mereka

curahkan bimbingan

Agar (lebih) beri makna

Tuk dunia dan hidupnya.

Syafiuddin Syarif Congngo'lah...

SMANSAS INDIE FESTIVAL FILM 2009 GOES TO “UPACARA”


Resital smansa 2009 berakhir semalam (21 juni 2009). Acara ditutup dengan acara puncak yaitu penganugerahan penghargaan kepada pemenang lomba recital yaitu film indie, mading tiga dimensi, batik, poster, juga teater. Yang paling menarik adalah penganugerahan penghargaan terhadap pemenang festival film indie. Malam penganugerahan pemenang sekaligus penutupan recital dikonsep seperti penganugerahan karya film tingkat dunia.

Tampil sebagai pemenang dalam dalam festival film indie adalah film karya kelas XI A3 dengan judul “Upacara” yang bercerita tentang nasionalisme. Keputusan panitia menetapkan film “Upacara” sebagai The Best Film menimbulkan pro dan kontra terutama dari kalangan cineas muda Smansa Sumenep. Kontra terhadap keputusan panitia penilai didasari anggapan bahwa kualitas film yang mengikuti turut serta dalam festival tahun ini lebih banyak dan baik dari sebelumnya. Serta adanya anggapan bahwa banyak film yang lebih menarik dari “Upacara”, sebut saja 75= tuntas, Becak, Senyum Yang Terabaikan,Ibuku Becak dan lainnya.

Kontroversi ini bisa diakhiri apabila kita memiliki konsep film indie. Konsep film indie akan dipahami apabila mempelajari teori film indie. Indie berasal dari Independent, yang berarti bebas, berdiri sendiri. Berarti sesuatu yang berbeda dan tidak sama dengan yang ada. Film indie berarti film yang berdiri sendiri dan berbeda dengan film-film yang sudah ada. Film indie adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan dan keluar dari maeinstream perfilman kekinian dengan. Ini dilakukan dengan menciptakan jalan sendiri. Film indie durasinya pendek, karena pendek pastinya jlimet . Sutradara dituntut bisa mengungkapkan ide secara utuh ke gambar film dan harus bisa ditangkap secara penuh oleh penonton. Film indie sangat miskin dialog. Dialog digantikan dengan gambar gerak yang divisualisasikan dalam bentuk film. Tanpa dialog, dengan melihat gambar yang ditampilkan penonton mengerti maksudnya. Disini gambar yang berbicara. Untuk itu dibutuhkan kameramen yang hebat yang mengerti anggle dan dari sudut mana gambar akan di shoot. Selain itu dibutuhkan editor unggul dan telaten.

Setelah kita mendapatkan konsep film indie tentunya keputusan panitia menetapkan film “Upacara” sebagai pemenang tidaklah salah. Diantara film lainnya “Upacara” sebuah karya film yang lebih dekat pada konsep film indie, sekalipun film tersebut compang-camping disana-sini. Sementara film lainnya masih kental dengan aroma sinetron. “upacara” sebuah film yang tanpa dialog, tetapi dengan gambar yang disajikan penonton mengerti atas apa yang dimaksudkan. Berbeda dengan lainnya yang mengandalkan dialog untuk menyampaikan maksud dan pesan film.

Sukses untuk “Upacara” XI A3, juga sukses untuk panitia rersital khususnya untuk ketua pelaksana yang selalu pulang malam. Dan diantaranya diselingi dengan tangis dan derai air mata. Puas!, puas!, puas!.

Syafiuddin Syarif, Guru Bhs. Jepang SMAN 1 Sumenep

Congngo'lah...

IDE SEDERHANA KAYA WARNA

Membuat atau mencipta sebuah karya bukanlah sesuatu yang sulit, tetapi sangatlah mudah. Itulah sedikit pesan yang bisa ditangkap setelah menonton film indie karya siswa kelas XI A4 dengan judul “Apa Ye”. Bagaimana tidak, ide pembuatan film ini tidaklah begitu dahsyat dan tidak melalui proses diskusi panjang internal tim produksi. Ide film ini muncul tiba-tiba tanpa nyana dari seorang anggota tim yang telah frustasi mencari ide funtastik.

Ide film “Apa Ye” berawal dari kegagalan. Ceritanya berawal dari kegagalan tim produksi membuat skenario film. Skenario film yang telah ditulis dalam bentuk skrip ditolak mentah-mentah oleh Pembina sinematografi Pak Agus. Skenario ditolak Pembina, tim segera mencari ide baru dan kemudian dibuat skenario lagi. Lagi-lagi skenario dicorat-coret oleh pembina karena dianggap tidak menarik dan salah sana-sini. Peristiwa penolakan ini terjadi berulang-ulang dan membuat tim produksi pusing tujuh keliling. Segala usaha mereka lakukan untuk mendapatkan ide film yang akan mereka produksi. Mereka menjelajah di dunia maya menggunakan alat jejaring dunia maya, datang ke konsultan ide kreatif, bahkan sempat datang ke Mbah Dukun untuk dijampi-jampi supaya otak menjadi encer dan keluar ide cemerlang. Sungguh nahas, hasilnya nihil. Ide menarik untuk produksi film tidak muncul-muncul.

Ditengah stress stadium tiga yang melanda tim produksi muncul ide tak dinyana. Salah seorang anggota tim mengungkapka ide untuk mengangkat kegagalan tim membuat scenario film diangkat menjadi film. Ide ini ibarat oase ditengah pasir menjadi pengobat dahaga bagi tim produksi yang haus akan ide. Segera setelah itu tim menemui Pembina. Kali ini beda, Pak Agus langsung menyambut baik ide mereka dan segera dibuat skenarionya. Selanjutnya sesegera mungkin dilakukan produksi.

Setelah disetujui pembina, tim produksi segera tancap gas melakukan produksi film. Film ini diberi judul “Apa Ye”, sebuah ungkapan dalam bahasa Madura. “Apa Ye” berarti “Apa Ya”, sebuah ungkapan yang menyatakan dalam keadaan kebingungan dan sedang mencari jalan keluar kira –kira apa dan bagaimana. Jalan keluar sudah mereka temukan dan jadilah film indie karya XI A4.

Menonton film ini kita teringat akan ide awal produksi airminum mineral dalam kemasan. Pada awal digulirkan ide untuk menjual air minum mineral dalam kemasan botol plastik ditolak mentah-mentah oleh orang dan dianggap tidak masuk akal. Karena orang-orang Indonesia tidaklah kekurangan air minum. Sekalipun idenya ditolak dan dianggap tidak masuk akal, mereka tetap memproduksi air minum itu. Hasilnya, air minum mineral itu mendapat sambutan dari masyarakat. Air kemasan itu laku keras dipasaran. Bahkan hingga saaat ini merek air minum itu menjadi penguasa pasar bisnis air minum mineral kemasan.

Film “Apa Ye” karya siswa XI A4 banyak memberikan pelajaran hidup bagi penonton. Pelajaran hidup itu antara lain, 1) ide harus dicari, kalau perlu diburu. Ide tidak akan datang dengan sendirinya, 2) sebuah karya tidak selalu diawali ole ide besar, kadang ide sederhana (kecil) apabila diproses dengan benar akan menjadi karya besar, 3) dalam hidup janganlah mudah menyerah terhadap masalah, hadapi dan berjuanglah untuk mencarikan jawabannya. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Syafiuddin Syarif , Guru Bhs. Jepang SMAN 1 SUMENEP

Congngo'lah...

Jumat, 19 Juni 2009

PENGRUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT TEKHNOLOGI

Resensi Pentas Teater Tappor Kellap X-5

Penonton memadati ruang aula. Lampu panggung lambat laun mulai memberikan suasana temaram, pasukan semut merah bergerak memasuki panggung. Dengan langkah sigap dan memberikan kesan pasukan tentara yang lagi melaksanakan patroli. Gerakan yang rampak dan diiringi vokal yang mengetarkan dinding-dinding aula, mereka menuju hutan yang memang menjadi kawasan hunian masyarakat semut. Di panggung segerombolan semut dengan perasaan riang sambil menari dari balik pohon besar, menandakan bahwa kehidupan mereka tenang dan damai tanpa kekurangan dan ganguan apapun. Penyutradaraan yang dikerjakan apik oleh Pras dengan menghadirkan penataan gerak yang tertata rapi.

Penataan ruangan pergelaran berhubungan dengan tata pentas di aula dan penataan setting yang sederhana mampu menampilkan suasana hutan. Memang ada konsep pemanggungan teater tidak selalu dipentaskan di atas panggung, tetapi bisa juga dipentaskan dipelataran atau arena. Oleh karena itu, penataan ruangannya pun berbeda-beda. Hal ini juga berhubungan dengan penonton. Pada pentas konvensional, biasanya menggunakan panggung yang di depannya diberi tirai depan dan penonton berada di depan panggung. Tempat pentas biasanya dilengkapi dengan korden-korden pembatas hiasan atas. Penataan ruangan bersifat statis. Panggung letakknya di belakang. Penonton berada di depan panggung duduk berjajar. Suasana seperti inilah yang ditampilkan pada pergelaran teater karya X-5 dengan judul Beringin Berrit.

Alur semakin naik tatkala kehadiran pengusaha hutan (Angga) memasuki panggung dengan membawa robot pemotong pohon (Vavan) dengan dikontrol oleh opereter robot (Satria) merencanakan akan membuat proyek pembangunan. Seluruh semut gelisah dan 4 pasukan semut mencoba melawan dan mempertahankan diri dari robot, namun yang terjadi pasukan semut kalah dan terkapar karena kekuatan robot. Alur menemukan klimaksnya saat ada perlawanan dari jenderal semut (Ani) yang ingin tetap mempertahankan wilayah hutan dari rongrongan manusia. Terjadilah perlawanan semut dengan pengusaha tersebut, namun kematian jenderal semut menitipkan pesan pada warga semut bahwa ”jagalah hutan ini dari kerakusan manusia”.

Perlawaan demi perlawanan tak mampu lagi dilakukan oleh semut-semut, dan dengan meminta bantuan dari pohon beringin berrit (Selvi), yang sementara itu juga pengusaha tersebut juga ingin merobohkan pohon beringin tua. Dengan kekuatan mistis yang keluar dari pohon beringin, maka pengusaha tersebut mampu terkalahkan dan akhirnya pasukan semut mampu menghadapinya. Kematian yang diterimanya. Dan hutan kembali tentram tanpa gangguan manusia lagi.

Gemah ripah loh jinawi, masyarakat hutan kembali meneruskan generasi barunya dengan penyelamatan lingkungan yang harus mereka lakukan sendiri. Karena manusia tak mampu lagi berpikir tentang manfaat lingkungan dan pelestarian lingkungan. Hanya sekedar kepentingan dan keuntungan sesaat. Inilah tema dari pertunjukan teater kelas X-5 yang ingin disampaikan ke hadapan penonton, sebagai renungan dimana teater sebagai media komunikasi dan refleksi untuk disampaikan kehadapan penonton.

Ada Nilai moral disini yang ingin disampaikan, sebagaimana fungsi dari teater. Nilai moral adalah nilai yang berhubungan dengan budi pekerti, etika dan susila. Setiap karya seni pasti mengandung nilai moral. Nilai moral yang ada di dalam karya seni, khususnya karya teater, dapat mengubah sikap dan prilaku penontonnya. Kalau nilai moralnya tinggi dapat membentuk perilaku penonton yang baik dan positif, tetapi kalau nilai moralnya rendah dapat membentuk penonton memiliki perilaku yang kurang baik. Karya teater yang telah dikemas oleh teater Tappor kelap memiliki nilai moral yang sangat tinggi yaitu mengajak penonton untuk bisa saling menjaga lingkungan hidup ini. Yang kedua manusia sebagai mahluk yang berkuasa diharapkan mampu menghargai mahluk yang lemah.

Dari proses produksi yang dilakukan oleh tim produksi Tappor kellap, sungguh sangat luar biasa dimana seluruh tim produksi mampu menunjukkan kerjasama yang bagus, saling melayani dam saling membantu, tetapi memang ada beberapa gelintir anggota yang cuek dengan proses produksi, nah kiranya proses produksi teater ini dapat dijdikan wahana atau ruang kreativitas yang berkelanjutan karena ini merupakan proses pembelajaran untuk saling kerjasama dan saling melayani dan mampu menghargai perbedaan untuk satu konsep karya khususnya karya seni teater.

Daun-daun kering

Berguguran...

Dan tunas

Akan tumbuh

Mewarnai aroma alam

Dan kehidupan melanjutkan perjalanan nasibnya

......*

(*teateristico) selamat dan teruslah berkarya, hingga kalian ada diantara lahan kreativitas di smansa ***agusteater
Congngo'lah...

Kamis, 18 Juni 2009

PENYADARAN MORAL DARI BILIK PANGGUNG COCOM

Resensi Pentas Teater kelas X-4

Teater merupakan salah satu seni kolektif yang artinya seluruh kegiatan berteater membutuhkan kerjasama personal untuk membuat sebuah karya sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Kolektivitas kerja teater adalah karya seni yang dikerjakan secara bersama-sama antara produser, sutradara, pemain, serta pengelola lainnya, seperti petugas tata suara, tata busana, tata setting, dan tata rias. Kinerja dengan kebersamaan dan kekompakan akan menunjukkan hasil yang maksimal dan hal tersebut memang menjadi kendala di kelas X-4. Hal ini terjadi saat persiapan setting pentas yang tidak dikerjakan dengan sempurna, sehingga apa yang sudah dipersiapkan ternyata tak bisa dipakai pada malam pementasan.

Sebuah kekurangan pada kerja kolektif akan berakibat fatal atau merugikan seluruh apa yang sudah dipersiapkan dengan matang. Teater juga membutuhkan penonton, karena tanpa penonton teater tidak bermakna. Oleh karena itu, semua yang terlibat dalam kegiatan pertunjukan teater harus mengetahui tugas-tugasnya sehingga pertunjukan teater dapat berjalan dengan lancar.

....

Malam itu...

Mushollah di belakang sekolahan

Agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya

Karena ada peristiwa yang memang tak pantas terjadi

Namun...

Semuanya sudah menjadi bagian dari persoalan seputar mushollah

Adegan awal dibuka dengan penataan musik perkusi menghentakkan keheningan seluruh penonton. Alunan musik perkusi tergarap dengan komposisi musik yang menarik. Monolog cocom (Emmak) membuka adegan pada karya teater yang bertajuk Cocom in the action produksi kelas X-4 SMA Negeri 1 Sumenep. Cocom memberikan gambaran bahwa dirinya sudah bosan menjadi keset, benda yang selama ini hanya sebagai pembersih kaki dan diinjak-injak tanpa seseorang memperhatikan dirinya. Emmak memainkan monolog sangat begitu apik namun vokal yang jauh dari kapasitas kebutuhan panggung, menjadikan penonton sebagian besar tidak mampu mendengar dialognya. Vokal yang minim memang sangat mengganggu pencapaian isi dari cerita kepada penonton.

Cocom juga mengatakan bahwa dia tiap hari selalu menjadi saksi atas kelakuan banyak orang yang berada di mushollah, dan ternyata menurut kesaksian dirinya bahwa mushollah tidak sebagai tempat sholat namun untuk kepentingan yang lainnya. Sepasang semut muda-mudi (ucha dan helmi) dengan mengendap-endap memasuki mushollah, bukan untuk melakukan aktivitas ritual namun untuk hanya sekedar berpacaran dan menurut sepasang semut bahwa di mushollah aman untuk berpacaran. Permainan ucha dan helmi dengan style akting yang menarik, membuat pertunjukan semakin hidup.

Ternyata yang merasa bosan dengan tingkah laku penghuni sekolah Telad-An bukan hanya cocom, namun daun (Anis) juga merasa bosan dengan penyalahgunaan ruang ibadah untuk kepentingan yang lainnya. Cocom dan daun bertemu dengan saling memberikan informasi bahwa sudah sebegitujauhkan ulah siswa-siswi memperlakukan Mushollah tidak pada tempatnya, ada sebuah harapan bagi diri cocom bahwa mushollah dikembalikan pada pemanfatan kepentingan yang sepantasnya, sebagai tempat ibadah.

Peristiwa terjalin dengan penyutradaraan yang tertata apik dan dua ekor tikus (firman dan adit) memasuki mushollah membagikan hasil korupsi dengan anggapan bahwa mushollah sebagai tempat yang aman, karena tidak mungkin diketahui tikus-tikus yang lain. Namun apa yang terjadi bahwa perbuatan dua ekor tikus koruptor tersebut ternyata memang sudah diendus oleh dua ekor tikus lainnya (adi dan edwin). Mereka mengintip perbuatan pejabat sekolahan tersebut (dua ekor tikus koruptor) dan menjebaknya pada peristiwa kemudian.

Cocom mencurigai sandal (bebek) sebagai kroni dari dua ekor tikus pejabat namun sandal menyangkal dirinya sebagai kroni, kerena sebenarnya dia sudah bosan dijadikan sandal. Permainan bebek dengan improvisasi-improvisasinya mampu menghidupkan suasana yang berbeda dari keseluruhan pementasan cocom in the action ini. Ending yang menyeret kedua tikus koruptor ini ke pihak kepolisian, menyiratkan bahwa segala macam bentuk korupsi hendaknya diberantas sesuai dengan hukum yang berlaku. Cocom menutup pertunjukan kali ini dengan kegembiraan bahwa Mushollah diharapkan menjadi tempat ibadah bukan untuk tempat bermaksiat dan pembagian hasil kerja yang kotor. Sebuah harapan kita bersama.

Pertunjukan yang disutradarai oleh Ayu Novia N ini menarik karena seluruh peran tidak menampilkan tokoh manusia namun disimbolkan dengan kehidupan mahluk lain, seperti binatang, keset dan daun. Sebuah cerita satire yang dikemas apik tanpa akan menyinggung perasaan oknum-oknum tertentu. Cerminan realitas kehidupan yang terjadi pada dunia di luar aktivitas manusia. Renungan bagi kita semua, mungkinkah ini akan kita biarkan sehingga akan membuat Tuhan bosan kepada kita.....

...

Mungkinkah..

Tuhan mulai bosan

Melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.....*

(*ebiet g ade)

(sekali lagi sukses Resital kelas X-4...berkaryalah tiada akhir...pusing???.... yang jelas iya... tapi...asyik khan???)***agusteater
Congngo'lah...

Rabu, 17 Juni 2009

ZANNEN DESUNE....


RESITAL : Momen Membangun Keakraban Wali Murid dengan Guru (Sekolah)

Pendidikan adalah proses, demikian diungkapkan oleh tokoh pendiri mazhab pendidikan liberal Paolo frei. Pendidikan sebagai proses diterjemahkan bahwa kegiatan penyelenggaran pendidikan di sekolah dalam bentuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau diluar KBM bertujuan merupakan proses yang dirancang dan harus dijalani oleh peserta didik mencapai sebuah tujuan atau hasil akhir dari proses tersebut. Pendidikan bertujuan mencetak peserta didik yang memiliki karakter, manusia yang unggul, tidak hanya dari sisi jasmani tetapi juga sisi rohani. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan sebuah proses dalam pendidikan sangatlah menentukan. Proses yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik. Sebaliknya proses yang tidak baik akan berdampak pada hasil yang tidak baik.

Keberhasilan siswa dalam proses belajar tidaklah hanya dari sisi akademik (keilmuan) semata, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah sisi non akademik (diluar keilmuan). Semua keberhasilan tersebut haruslah ada semacam penghargaan atau apresiasi dari segenap stake holder pendidikan. Apresiasi tersebut diberikan sebagaiwujud simpati dan mengahargai terhadap usaha dan jerih payah peserta didik selam menjalani proses. Apresiasi perlu dan mutlak diberikan karena pendidikan adalah miniatur kehidupan sosial masyarakat dan curahan dunia ide dari cita-cita ideal masyarakat yang diharapkan. Kehidupan masyarakat yang dinamis didorong oleh kepedulian diri untuk memberikan peran sesuai dengan kompetensi diri ditengah masyarakat guna tercipta kehidupan yanh harmonis. Setiap pribadi memilki peran tersendiri dan mendapatkan pengakuan akan perannya oleh komonitas sosialnya.

Segala bentuk apresiasi, pengakuan, penghargaan atas hasil dari proses maksimal yang jalani oleh peserta didik tidak ditujukan agar peserta didik berbangga diri dan melupakan yang lain (sombong). Apresiaisi diberikan sebagai wujud sikap charity and reponsibility atas prestasi (hasil) anak didik setelah melalui proses panjang dan bersabar selama berproses. Sebuah penghargaan terhadap pikiran yang tercurahkan dan keringat yang tercucurkan untuk sebuah hasil. Pengukuhan dan pengakuan atas pribadi yang memiliki potensi yang selanjutnya potensi itu diberikan dalam bentuk peran ditengah miniatur sosial masyarakat (sekolah). Selayaknya anak yang memilki kemampuan akademik atas teman yang lain hendaknya menjadi tutor sebaya yang bertugas mengajari teman-temannya yang kesulitan menangkap informasi keilmuan yang diberikan guru. Dalam komonitas sosial, pribadi yang memiliki kemampuan lebih berkewajiban untuk menjadi motor penggerak menuju masyarakat yang dinamis. Hal ini sebagai wujud pertanggungjawaban atas apresiasi berbentuk prestasi yang diterima.

Resital yang diselenggarakan setiap tahun diakhir semester genap merupakan ajang unjuk kreasi siswa. Dalam event ini ditampilkan karya siswa kepada segenap stake holder pendidikan. Majalah dinding tiga dimensi, Photoshop, teater, batik dan pemutaran film indie adalah hasil keratifitas siswa dari proses yang relatif panjang. Untuk sebuah karya setiap individu dalam komonitas sosial kelas dituntut bisa bekerja sama sekaligus sama-sama bekerja. Mulai dari ide, konsep, pelaksanaan di lapangan diatasi secara bersama-sama. Permasalahan dan kendala dilapangan dihadapi dan dicarikan jalan keluar bersama. Setiap pribadi siswa dengan kompetensi yang dimiliki memberikan perannya untuk sebuah hasil karya komonal. Sebuah potret kehidupan masyarakat ideal yang diidamkan bersama.

Setiap usaha dan kerja keras seseorang haruslah direspon. Respon diberikan berbentuk apresiasi sebagai penghargaan dan pengakuan atas unjuk kerja yang ditampilkan. Setiap pementasan teater dan pemutaran film indie panitia mengundang para orang tua siswa untuk menyaksikan dan memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan anaknya ditengah komonitas kelas dalam masyarakat pendidikan. Lain dari itu, event ini adalah momentum bertemunya para orang tua siswa dengan wali kelas ataupun para guru. Merupakan waktu yang tepat untuk menjalin keakraban antara orang tua siswa dengan para guru (pihak sekolah).

Selama ini sekolah sebagi institusi ibarat menara gading yang tidak boleh disentuh oleh tangan-tangan luar sekalipun orang tua siswa. Sekolah dengan sistem dan menejemen yang diterapkan menutup pintu rapat-rapat atas ide, masukan yang datang dari luar. Sekalipun muncul konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sekolah mulai membuka diri atas peran dan masukan orang luar. Sekolah tidak akan mampu menyerap sepenuhnya aspirasi dan unek-unek yang datang dari luar. Ujung-ujungnya masukan itu disimpan dalam kotak: “ Usul Saudara kami catat dan akan dipertimbangkan”.

Momen resital adalah timing yang tepat untuk membuka jarak antara sekolah dengan pihak luar. Sembari menyaksikan karya siswa ada waktu bagi guru dan orang tua untuk berkomonikasi langsung. Orang tua menanyakan perkembangan anaknya kepada guru dan guru bisa menjelaskan kepada orang tua tentang kesulitan dan kendala yang dihadapi dunia pendidikan. Tak terasa curhat antara orang tua dengan guru menjadi komonikasi efektif untuk menghilangkan sekat pemisah antara orang tua dengan guru (pihak sekolah). Dari proses informaal sharing inilah akan tecipta keakraban antara orang tua dengan guru. Apabila telah tercipta keakraban, maka akan terjalin hubungan harmonis sekolah dengan pihak luar sebagai bagian dari stake holder institusi pendidikan. Sebuah jalinan harmonis yang berdiri diatas dasar saling memahami atas realitas dunia pendidikan yang merupakan tanggungjawab bersama.

Sayang, momen ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh guru terutama wali kelas dan orang tua siswa. Guru, wali kelas juga orang tua siswa tidak semuanya hadir untuk memberikan apresiasi terhadap karya anak-anaknya. Peluang yang baik untuk menjalin komonikasi untuk menciptakan keakraban antara wali murid dan wali kelas / guru (sekolah) hilang sia-sia. Akhirnya tulisan ini saya tutup dengan ungkapan orang Jepang: ざんねん ですね (Sayang ya!).

Syafiuddin Syarif : adalah pengajar Bhs. Jepang SMA 1 Sumenep
Congngo'lah...

Selasa, 16 Juni 2009

SEMPROTAN ANTI SERANGGA...K.K.N. DUNIA KECOA

Ulasan Teater: Kerajaan Kecoak X-3

Musik perkusi menghentak memecahkan suasana penonton yang memadati gedung aula Smansa dengan pertunjukan teater Kerajaan Kecoa karya X-3 SMA Negeri 1 Sumenep. Empat ekor kecoa (mahluk yang dianggap kotor) oleh manusia lagi mengumpulkan sisa-sisa makanan yang berserakan di lantai panggung. Cerita bergerak dengan mensyukuri bahwa makanan berlimpah di wilayah kerajaan kecoa di negeri seberang, dan tiga ekor kecoa lainnya mengintip-ngintip ingin memasuki wilayah kerajaan seberang untuk mencuri makanan yang berlimpah ruah. Strategi pencurian mereka susun dan penjagaan wilayah kerajaan kecoa diperketat. Dengan setting yang tertata apik dengan dua pohon ranting kering disebelah gapura kerajaan, ingin menyampaikan bahwa setting yang kering karena masuk pada dunia kaum binatang bernama kecoa bukan dunia kehidupan manusia.

Penataan lampu yang menarik namun banyak celah-celah yang bocor karena lighting yang ada sangatlah sederhana. Dari dalam masuk sri ratu kecoa (chacha) dengan didampingi kedua perdana mentrinya, genit dan selalu tahu tentang perkembangan dunia gosip-mengosip layaknya infoteimen di televisi yang hadir ditengah-tengah kehidupan manusia di negeri ini. Mungkin inilah cermin kehidupan sosial politik di negri kita ini, yang mana penguasa-penguasa negeri ini juga sibuk melihat tayangan infoteimen dan juga sebagai pelaku publik figur yang syarat dengan gosip-gosip yang laku untuk dijual ke publik. Kritik dan mungkin satire yang diungkap pada garapan kali ini. Dan ternyata kelimpahan makanan yang membuat sri ratu kecoa bersikap seperti itu.

Kedatangan tiga kecoa yang mengendap-endap hendak mencuri makanan di kerajaan seberang, dicegah oleh ke dua pengawal. Ketiga kecoa tersebut tidak kekurangan uang namun hanya karena kekurangan makanan, loby serta penyuapan terjadi sehingga pengawal menerima tawaran tersebut, akhirnya dengan leluasa pencuri tersebut menguras makanan dari kerajaan kecoa. Sebuah cerminan tentang kondisi yang terjadi di negeri ini, sehingga dimanapun dapat kita dengar kebocoran-kebocoran proyek karena Program KKN yang masih dilestarikan atau mungkin masih dipertahankan.

Sri ratu kecoa marah dan mengusir ke dua pengawal kerajaan untuk dideportasi ke negara orang, karena tidak menginginkan orang-orang yang berKKN tumbuh dan berkembang di kerajaannya. Serentak semua kecoa bingung karena kehadiran manusia dengan membawa senapan berupa semprotan anti serangga, croot..croot...croot... dan terkaparlah semua adegan yang dibangun dari awal hingga akhir. Sebuah ending yang mengejutkan, karena manusialah semua buaian dan adegan kehidupan ini berhenti dan musnah. Manusia memang sangat berkuasa untuk mengatur keberlangsungan hidup, yang nyata-nyata Tuhan tetap selalu menyayangi umatnya. Ironis memang itulah kenyataan yang sedang kita hadapi.

Memadukan konsep dengan gagasan pelestarian lingkungan menggunakan materi cerita tentang semaraknya KKN sangat menarik hasil olahan sutradara (uut) pada pertunjukan teater kali ini. halus, satire dan tidak menyinggung kepada oknum menjadi pertunjukan yang segar dan menarik. Namun ada beberapa kekurangan baik dari kekuatan akting pemain dan penataan artistik. Gapura yang dibangun sangat menunjukkan wilayah dan jaman tertentu dari kebudayaan bangsa ini, lebih baik hendaknya gapura bersifat umum dan tidak menunjuk pada rujukan sejarah, karena cerita yang diangkat keluar dari kajian sejarah tertentu. Penataan koustum sangat menarik dengan pilihan desain dan warna, namun kelemahannya ada pada pencahayaan yang kurang maksimal. Sehingga untuk menonjolkan kesan warna dan karakter kurang nampak dari penonton.

Apresiasi tentang tema lingkungan memang kaya akan hasil eksplorasi dan perlu diingat jebakan-jebakan artistik selalu menjadi sebuah kelemahan dalam pertunjukan yang memang secara tehnis minim untuk kekuatan eksplorasi. (sukses berkecoak ria X-3) ***agusteater

Congngo'lah...

Pengikut

 

TANAH KAPOR | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates