Jumat, 11 September 2009

Buka Bersama dan Pembagian Takjil




Kegiatan ekskul teater dan ekskul tari smansa di bulan Ramadhan-2009


Komunitas Teater Smansa bekerjasama dengan Padepokan Tari Smansa mengadakan acara rutin yang diselenggarakan pada setiap bulan Ramadhan. Tak terkecuali pada bulan ramadhan kali ini juga mengadakan acara buka bersama seluruh pengurus dan anggota ekskul teater serta tak lupa mengundang alumni anggota Kates. Acara buka bersama dilaksanakan pada tanggal 6 September, tepatnya malam senin di hadiri oleh segenap anggota ekskul teater dan ekskul tari. Dikomandani oleh Bella Rosailly sebagai ketua kates periode 2009-2010 dan melibatkan beberapa pengurus ekskul menyiapkan seluruh menu untuk buka bersama. Sifat kekeluargaan dan kerjasama di dalam rumah tangga ekskul sangat nampak sekali, dimana saling diberikan tugas untuk menyiapkan masing-masing sajian yang akan disantap untuk membatalkan ibadah puasa kali ini. Shinta Ndut menyiapkan menu mie goreng dan sambel pettes dengan beberapa lalapan, Dete kebagian untuk memasak nasi, bebek menyiapkan hidangan pembuka es cendol, sementara Bella menyiapkan lauk telor goreng, ayam goreng dan bergedel, dan uut kebagian sayur maronggi, serta yang lainnya membantu agar pelaksanaan buka bersama berjalan sesuai yang diharapkan. Menu yang sangat luar biasa dihidangkan di lapangan volly.

Menunggu menit-menit beduk yang terdengar melalui pengeras suara masjid di sebelah utara sekolah SMA negeri 1 Sumenep, seluruh anggota ekskul nampak sumringah, walaupun mungkin semua menunggu saatnya untuk menyantap menu yang telah dipersiapkan dan tikar-tikar yang sudah ditata rapi. Dengan piring pincuk dari daun pisang menambah suasana kuliner bernuansa pedesaan. Suara adzan berkumandang menunjukkan bahwa buka bersama dimulai. Beberapa es cendol mulai masuk kerongkongan masing-masing anggota ekskul untuk membatalkan puasa pada hari minggu tersebut. Saya beserta anak dan istri juga hadir pada suasana buka bersama, sangat luar biasa dan maknyus hidangan yang disuguhkan sore itu. Dengan nasi di pincuk dan ditambah sambel atau cenge’ pettes dengan lalapan dan lauk ayam goreng, bergedel dan telor gulung, wah mengingatkan betapa Tuhan memberikan rejeki buat kita sangat luar biasa. Dan sekejap menu kuliner nuansa pedesaan sudah habis tuntas diserbu oleh segenap anggota ekskul teater.

Dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah di mushollah at-taqwa, suasana religi untuk mendekatkan diri pada Allah SWT pada bulan yang penuh berkah ini tidak disiasiakan oleh seluruh keluarga besar Kates dan keluarga besar Tari. Dilanjutkan dengan acara bincang-bincang di lapangan volly, beberapa anggota menemukan ide untuk melanjutkan acara di bulan ramadhan kali ini, mereka sepakat akan mengadakan acara pembagian takjil serta pemberian pakaian layak pakai kepada orang-orang yang membutuhkan. Di tentukan hari jumat acara pembagian takjil akan dilaksanakan. Dengan iuran anggota seluruh acara pada bulan ramadhan kali ini bisa dilaksnakan dengan baik.

Jumat tanggal 11 september, siang setelah shalat jumat, beberapa anggota ekskul tari dan ekskul teater berkumpul di rumah pembina ekskul menyiapkan seluruh kebutuhan, nampak ipe, nova & novi menyiapkan santan, sementara saya dan anak istri belanja ke pasar anom membeli kebutuhan menu kali ini. Kita membuat kolak pisang yang pada sore harinya akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Tak lama kemudian hadir untuk membantu Andy (mantan ketua kates), Shinta Ndut, Intan Tompel, Dhaina Lemmot dan anna datang untuk lebih meramaikan suasana masak memasak. Bebek, Bella, Firman dan Pras kemudian menyusul ke rumah saya. Dan yang mengagetkan Sofian tiba-tiba datang dengan membawa beberapa buah kelapa yang diambilnya dari kampung halamannya yaitu Dungkek. Dan saya sendiri kebagian untuk memasak kolak pisang. Dengan beberapa ramuan yang sudah saya imajinasikan terlebih dahulu dan tepat jam tiga sore karya kuliner saya sudah siap untuk dibungkus.

Dengan semangat sore itu semua bergotong royong membungkus kolak pisang ke dalam plastik-plastik yang sudah disediakan. Jam 4 bungkusan kolak pisang dibawa ke sanggar teater dan ternyata di sanggar sudah pada kumpul seluruh anggota ekskul teater. Dan selanjutnya jam lima sore semua berpawai menuju taman bunga untuk membagikan takjil ke pada seluruh masyarakat yang melewati depan masjid jamik. Tak berapa lama takjil sudah berpindah tangan dan seluruh anggota ekskul teater merampungkan acara pembagian takjil dengan lancar dan alhamdulillah semua sesuai dengan rencana. Bukan hanya sampai disini, karena acara akan dilanjutkan esok harinya, hari sabtu sore ekskul teater akan mengadakan pembagian pakaian layak pakai yang sudah dikumpulkan dari masing-masing anggota kates. Acara pembagian pakaian layak pakai ini rencana akan dibagikan di daerah Dungkek disekitar kediaman salah satu anggota kates yaitu Sofian Latjuba’.

Yap semoga apa yang sudah dikerjakan oleh ekskul kates akan bermanfaat bagi kita semua dan kita selalu akan merindukan suasana bulan ramadhan tahun-tahun berikutnya. Terimakasih kates dan semoga Allah SWT selalu beserta kita. Amin.
Congngo'lah...

Rabu, 09 September 2009

Alalabang, Reaktualisasi Tradisi Lisan Ditengah Gempuran Kesenian Populer

(Alalabang, merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisi di Sumenep –Madura yang memadukan antara seni macopat, wayang gelagar, dan topeng dhalang. Seni pertunjukan ini terpilih untuk ,mewakili Jawa Timur pada Festival Seni Tradisi Lisan se Asia yang akan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 1 –4 Desember 2006)
***

Seni pertunjukan merupakan bagian dari tradisi masyarakat agraris yang memiliki hubungan dengan adat kebiasaan setempat. Suatu bagian dari keseharian dalam tradisi masyarakat petani yang berhubungan dengan sistem kehidupan mereka, daur kehidupan maupun dalam upacara keagaamaan. Di masanya seni pertunjukan tersebut mengadakan pentas dengan mendatangi rumah penduduk atau didatangkan untuk memenuhi hajat tertentu. Biasanya hajat yang diikuti dengan seni pertunjukan tersebut, berupa selamatan bumi (Rokat Bumi), selamatan karena punya niatan di lakukan di kuburan para sepuh (Bujuk) dinamakan Rokat Bujuk. Pertunjukan tersebut memiliki pola dan pakem yang standar, yaitu mereka mendatangi kuburan sesepuh (Bujuk) dengan membawa beberapa sesaji, acara doa tertentu, dan di antaranya terdapat pertunjukan yang dapat dijadikan tontonan dan tuntunan. Rokat Bujuk ini menjadi totik fokus garapan Alalabang. Sampai saat ini rokat bujuk menjadi pertunjukan rutin sertiap musim panen di desa Bun Bara’ – Rubaru.Di desa ini rokat bujuk dilakukan ke “Bujuk Barumbung”,makam Kiai Agung Barumbung, yang sampai saat ini dipercayai masyarakatnya sebagai kuburan keramat. Dalam Rokat bujuk biasanya dibacakan macopat tembang Artate dan Sengkle.

Pola pertunjukan seni tradisitersebut selalu dipertahankan secara temurun, menjadi suatu kekayaan budaya yang khas bagi setiap daerah, juga di Sumenep. Kekayaan seni tradisi baik berupa seni lisan (macopat), solo’an, tari /teater dan Topeng Dhalang menarik perhatian Agus Suharjoko dan Ahmad Darus bersama komunitasnya untuk mengemas kembali seni tradisi dan dipadukan dengan seni pertunjukan modern. Konsep perpaduan yang berpijak dari konsep rokat bujuk untuk dijadikan sumber inspirasi dalam seni pertunjukan Alalabang.
Alalabang, berasal dari kata labang, berarti pintu. Dimaksudkan seni pertunjukan tradisi di Sumenep (Madura) pada mulanya melakukan pertunjukan dari pintu ke pintu atau di undang untuk mendatangi rumah yang punya hajat. Rombongan Topeng dalang biasanya mendapatkan undangan pentas pada saat mengadakan pertunjukan., sehingga ketika manggung bisa berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya selama beberapa hari tanpa sempat pulang ke keluarganya.
Dalam konsep pertunjukan Alalabang, mengambil tiga unsur seni tradisi; sastra lisan (macopat), Solo’an, dan Topeng Dhalang dipadukan dengan seni modern yang dipadukan berupa “Tari Mothak” (tari monyet).
Konsep panggung dengan dengan mermeergunakan layar topeng dalang sebagai background dengan peralatan musik saronen, siter, saron, gender, dan seperangkat gamelan.Salenthem, gendang, siak (kecrek). Jenis Gending: kennnong tello’, sarama’an, giroan (gending kasar), dan kejungan. Sementara tokoh topeng yang ditampilkan Anoman, pasusukan anoman, Indrajit dan pasukan Indrajit, serta Trijata. Nayaga dan para pemain termasuk dalang dan apneges tidak langsung berada di panggung. Saat musik gamelan dan saronen mulai dibunyikan rombongan musik diiringi dengan bacaan tembang , para pemain berjalan menuju ke arena pementasan.
Sastra lisan (macopat), dalam konsep alalabang merupakan media efektif untuk menyampaikan pesan dan memainkan improvisasi oleh penembang atau dalang. Dalam keleluasaan mengimprovisasi lakon, pertunjukan alalabang diawali macopat dan bajang gelagar, wayang yang terbuat dari tangkai daun singkong. Atau juga bajang pappa bisa terbuat dari pelepah pohon pisang.Mengisahkan cerita “Temon Pote” atau “Timun Putih” mengisahkan seekor kera yang dipelihara K. Agung Berumbung. Dalam kisah tersebut, kera diberi tugas untuk menjaga tanaman timun yang ditanam sang kiai. Mendapat tugas dari majikannya kera kemudian punya inisiatif mengecat timun tersebut dengan warna putih, sehingga terlihat jelas di malam hari, dan terlihat apabila hilang atau diambil pencuri. Konon kisah tersebut menyebabkan timun yang berasal dari daerah Barumbung (Sumenep) warna kulitnya berwarna putih kehijauan. Saat memainkan lakon cerita “Temon Pote” dalang memainkan wayang gelagar/ pappa, suatu bentuk simbolisasi bahan cerita yang dekat dengan kultur agraris setempat. Transisi penceritaan wayang gelagar ke topeng dhalang diawali dengan tarikan kuat wayang gelagar ke depan layar topeng yang ada di panggung. Wayang gelagar yang mewakili sosok kera putih terjatuh dan dari balik layar muncul peraga (penari) berkostum kera (Anoman).
Pertunjukan bergerak ke panggung dibuka Anoman yang tengah berada di taman Argasoka yang telah berhasil melaksanakan tugas Rama, menyampaikan cincin kepada Dewi Sinta. Anoman tidak mau kembali ke Anglengka tetapi tetapi memporak-porandakan Argaloka. Keberadaan Anoman di Argaloka diketahui oleh Trijata (diperagakan oleh laki-laki yang bgerperan sebagai perempuan). Trijata jatuh cinta kepada Anoman, dan percintaan mereka diketahui oleh Indrajit, membuatnya iri. Indrajit dikeroyok oleh pasukan Anoman. Ia lari dan kembali lagi dengan pasukannya untuk melawan pasukan Anoman. Perang tak dapat dihindarkan. Ending yang cukup menarik dalam pertunjukan ini, dalang memutus cerita peperangan. Dalang memerintah kepada pasukan indrajit dan anoman untuk membuka Tatopong (Topeng). Setelah membuka topeng yang dikenakan mereka berhenti melakukan perang. Suatu filosofi yang ingin menyampaikan pesan bahwa pertengkaran tidak akan menyelesaikan masalah. Bahwa pertikaian yang terjadi karena banyaknya kepentingan yang mengintervenbsi dalam kehidupan kita sehingga kita lalai kepada sesamanya.
*****
Pertunjukan yang disutradarai Agus Suhardjoko alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan dalang Ahmad. Darus merupakan sebuah upaya melakukan revitalisasi seni tradisi dipadukan dengan konsep seni modern. Mengumpamakan panggung sebuah bujuk, maka para peraga berada di luar arena (panggung) untuk membawa sesasji atau melakukan pertun jukan.
Sebuah revitalisasi dengan memasukkan cerita atau permasalahan aktual dalam lakon (macopat) dan memadukan tari mothak ke dalam topeng dhalang.Ikon mothak dalam pertunjukan ini cukup menarik berangkat dari kisah mothak atau kera yang dipelihara Kiai Agung Barumbung yang bisa memahami keinginan manusia. Adegan yang memiliki makna bahwa kera saja bisa berubah karena didikan manusia, apalagi manusia yang berakal.
Keberanian memasukkan peraga perempuan dalam tari mothak. Hadirnya penari perempuan dalam topeng dalang merupakan hal baru, karena sebelumnya topeng dalang Sumenep diperagakan oleh peraga laki-laki. Namun hal ini tidak merusak pakem karena, peran perempuan bukan sebagai peraga utama. Namun tantangan ke depan yang cukup menarik , adalah bagaimana mengolah seni tradisi pertunjukan Alalabang menjadi media untuk mengakrabkan kembali generasi muda dengan seni tradisi leluhurnya. Tentunya dibutuhkan keberanian untuk mendekati budaya kaum muda sehingga dapat menjalin matarantai seni tradisi di tengah masyarakatnya.

Hidayat Raharja adalah penyair, dan aktif dalam kajian seni tradisi madura
Alamat rumah: Perumahan Bumi Sumekar Asri
Jl. Dewi Sartika IX/12 Kolor – Sumenep
Congngo'lah...

DEKONSTRUKSI SENI TRADISI

Oleh: Sunlie Thomas Alexander*

MUNGKINKAH sebuah kesenian yang telah dianggap ikon tradisi dan dipakemkan mengalami dekonstruksi? Barangkali banyak pihak akan serta-merta “berang” jika pertanyaan ini dilontarkan, apalagi pihak yang merasa sebagai pemilik (dan pelaku) kesenian tradisi tersebut. Tetapi bagi Agus Suharjoko, S.Sn, sutradara dan konseptor Seni Tradisi Topeng Dhalang “Rukun Pewaras” Sumenep, Madura, jawaban bagi pertanyaan ini adalah amat memungkinkan, bahkan harus diupayakan, meskipun kemudian bakal mendapatkan tantangan keras dari masyarakat sosial-budaya di mana seni tradisi itu bersumber. Dan kemungkinan dekonstruksi terhadap seni tradisi semacam ini telah direalisasikan oleh alumnus jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut bersama komunitas “Rukun Pewaras”-nya dalam pentas di “Festival Tradisi Lisan Alalabang” di Gedung Wanitatama, Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Topeng Dhalang merupakan suatu kesenian tradisi semacam wayang orang yang berasal dari masyarakat Madura, di mana semua pemainnya mengenakan topeng dengan seorang dalang sebagai narator dan “pembicara”. Biasanya, kesenian ini sering digandeng dengan macapat (mamacat), sebuah seni tradisi lisan (seperti berpantun) yang hidup di Madura. Secara tradisi, kelompok-kelompok kesenian ini diundang ke berbagai acara, dari yang ritual hingga yang bersifat hiburan. Tradisi keliling memenuhi permintaan dari masyarakat inilah yang disebut sebagai Alalabang (mengamen).

Seni Tradisi Topeng Dhalang yang dipentaskan dalam Festival Tradisi Lisan Alalabang di Yogyakarta oleh komunitas “Rukun Pewaras” boleh dikatakan memang memiliki suatu warna baru yang telah berbeda dibandingkan dengan pakem yang selama ini dikenal oleh masyarakat sumbernya, tetapi tetap tidak kehilangan aura dan spirit lama.

Menurut Ahmad Darus, penata musik kelompok Topeng Dhalang “Rukun Pewaras”, seni Topeng Dhalang yang mereka pentaskan sudah mengalami banyak perubahan (baca: pembaharuan), baik dari segi gerak, bloking, bahasa, durasi, maupun cerita. Dan pembaharuan dimungkinkan karena perubahan tatanan sosial-budaya di masyarakat sumber seni tradisi tersebut, baik itu dari paradigma berpikir maupun pengeseran nilai-nilai dalam hubungannya dengan kondisi berkesenian.

Usaha seperti ini sesungguhnya bukanlah sekedar ikhtiar agar seni tradisi tetap lestari tetapi juga memberikan berbagai dimensi baru bagi kebudayaan tradisi tanpa harus terjebak oleh cita-cita luhur berlebihan sebagai penjaga tradisi (lama). Upaya dekonstruksi seni tradisi justru memiliki kepentingan sebagai usaha pelestarian yang handal. Tantangan terbesar dari kesenian tradisi di mana pun dalam berhadapan dengan modernisasi dan globalisasi adalah perubahan pemaknaan fungsi dan perannya, terutama ketika berbenturan dengan seni kontemporer dan kepentingan pariwisata. Dan ini telah menjelma menjadi sebuah tuntutan, yang apabila tidak segera ditanggapi dengan kreatif, mengandung resiko ditinggalkan oleh masyarakat “baru”. Orang-orang muda yang dapat menghafal tradisi dan menyenangi seni tradisi semakin sedikit dan tradisi terancam punah.

Perubahan nilai dan paradigma sosial masyarakat dalam konteks hubungan dengan seni dan penikmat seni ini merupakan satu hal penting yang harus disiasati dengan kreatif tanpa mesti dikhawatirkan akan mencairkan kemurnian seni tradisi menjadi kitsch sebagai akibat logis dari pertumbuhan masyarakat.

Arogansi Pelaku Lama

Tantangan yang muncul dalam upaya dekonstruksi sebuah seni tradisi dalam kaitannya dengan usaha melanggengkan seni tradisi itu sendiri dalam perkembangan masyarakat dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas di luar lingkup sosial-budaya sumber, biasanya terutama memang berasal dari masyarakat lama sumber seni tradisi tersebut. Baik dari masyarakat sosial yang merasa sebagai pemilik sah kesenian itu maupun dari para pelakunya.

Sering kita dengar ungkapan atau celetukan, kalau sebuah kesenian tradisi yang dipentaskan bukan seperti itu, atau itu bukan yang asli. Persoalan seperti inilah yang sempat dikemukakan dalam diskusi kecil di sebuah kedai kopi di daerah Papringan, Yogyakarta usai pementasan Topeng Dhalang yang dihadiri oleh seluruh awak komunitas “Rukun Pewaras” Sumenep, Madura dan sejumlah seniman muda Yogyakarta. Menurut Ahmad Darus, tantangan-tantangan itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, seni tradisi kerap dipandang sebagai suatu “tradisi agung” dalam hubungannya dengan ritual oleh masyarakat sumbernya. Kedua, ketakutan akan kehilangan lahan (dalam konteks sebagai mata pencaharian) dari sebagian pelaku seni tradisi, di mana para pelaku lama memiliki kekhawatiran akan tergusur oleh setiap inovasi kreatif yang dilakukan. Hal ini kemudian muncul ke permukaan sebagai suatu arogansi yang terkadang sangat galak dan menisbikan segala dialog estetis dan proses kreatif yang hendak melakukan penemuan dan pemeriksaan ulang.

Padahal sebuah upaya dekonstruksi tidak akan mengadakan “lepas hubungan” dengan akar kebudayaannya tetapi malah menghasilkan sesuatu yang lebih komprehensif dan membuat idiom seni tradisi itu dipahami oleh lingkungan yang lebih luas. Dengan dekonstruksi, dalam proses integrasi dan modernisasi secara paradoksal, sesungguhnya seni tradisi dapat menjadi juru bicara yang piawai dalam mengaitkan unsur lama dengan unsur baru.

Gagasan tentang warisan kultural yang masih seringkali dipandang sebagai aset penting yang harus dilindungi dalam rangka mencari identitas yang dilandasi hasrat sederhana untuk mengabadikan kegemilangan masa lampau, justru meletakkan gagasan itu dalam ruang yang stagnan—menolak perspektif baru tanpa memahami suatu kreativitas berkesenian dalam konteks perkembangan masyarakat.

Saya selalu menyakini kesenian haruslah dilahirkan kembali diri-sosialnya untuk bertahan dalam proses integrasi dan modernisasi. Karena itu selalu diperlukan kearifan untuk mencari dan menemukan kembali letak, peran, fungsi dan makna sosial dari seni di tengah masyarakat yang terus berubah agar seni itu mampu bertahan. Seni tradisi tidak mesti mengabdi kepada harmoni dan keseimbangan abadi dalam kosmos, sehingga hanya terperangkap sebagai bentuk seni dalam kenikmatan lanskap yang agraris dan feodal.

Menurut Umar Kayam, ini semua tidak berarti seni tradisi itu dalam kesediaannya untuk mentransformasi kemunculannya dalam bentuk yang menyimpang dari pakem (baca; kemurnian) dianggap sebagai “korupsi seni” demi kepentingan baru yang kita tahu adalah bagian yang penting dari proses integrasi dan modernisasi. Seni tradisi sungguh dapat menjadi perantara yang menyenangkan.

Sardono, ketika mencoba menafsirkan kembali tarian Cak yang tradisional dengan suatu eksprimen baru pernah mendapat tantangan hebat dari masyarakat Teges, Bali. Penjelajahan ke pelbagai kemungkinan baru, katakanlah sebuah avantgardisme ini berbenturan dengan wilayah di mana norma-norma umum ikut andil dalam membentuk penilaian dan paradigma seni.

Dalam kasus Sardono, kita bisa melihat bagaimana sebuah sistem ekologi bereaksi terhadap salah satu milik kelengkapannya dalam hal ini seni tari Cak yang sedang “diganggu” oleh “tangan luar”. Masyarakat tersebut, setidak-tidaknya sebagian penting dari lapisnya, merasa terancam akan fungsi kelengkapan dari seni tari Cak yang dianggap telah mapan. Sebuah kegagapan dalam memaknai identitas.

Penemuan Kreatif Renewal

Sesungguhnya setiap seni selalu terbuka bagi penafsiran baru. Inilah yang agaknya dipahami oleh komuntas “Rukun Pewaras” Sumenep, Madura dalam upaya interpretasi ulang terhadap seni tradisi Topeng Dhalang Madura.

Tetapi, seperti yang diakui oleh Agus Suharjoko, S.Sn, tidak semua hal dalam seni tradisi Topeng Dhalang memerlukan dekonstruksi, terutama menyangkut unsur-unsur filosofis yang berkaitan dengan local genius dan nilai religi yang dikandung seni tradisi tersebut. Tantangan filosofis seni tradisi inilah yang menuntut kearifan seniman dalam proses kreatifnya. Agus Suharjoko, S.Sn mencontohkan bloking dalam Topeng Dhalang yang berbentuk angka delapan dan segitiga misalnya, ketika diganti dengan bloking diagonal seperti yang pernah dicobanya, ternyata justru melemahkan spirit dan aura dari seni tradisi tersebut. Nilai-nilai filosofis seperti ini menurutnya, amat membutuhkan kajian serius baik dari disiplin ilmu seni itu sendiri maupun ilmu agama, yang selama ini belum banyak disentuh.

Ada semacam kebiasaan yang mesti disadari, seni tradisi sebenarnya tidak terlalu banyak berhubungan dengan formulasi dan teknik, tetapi pada laku diri dan ritus. Afrizal Malna pernah mengungkapkan kalau dalam berbagai khazanah tradisi, tubuh tidak direpresentasi. Sebuah seni tradisi lebih merepresentasikan “kehadiran” yang lain. Tubuh menjalankan ritual, puasa, meditasi dan syarat-syarat lain yang tidak teknis sifatnya. Tubuh menjadi bahasa justru karena dijalankan lewat laku diri.

Hal tersebut diakui oleh Ahmad Darus, tetapi menurutnya laku diri ini dalam Topeng Dhalang sifatnya lebih personal. Karena itu sentuhan teknik dari seorang seniman akademis seperti Agus Suharjoko, S.Sn, memang mesti lebih hati-hati ketika melakukan akademitisasi agar tubuh tidak cenderung terjebak dalam kekosongan teknik.

Menghadapi apa yang disebut “perubahan sosial” dan pergeseran nilai-nilai masyarakat, juga dalam upaya memperkenalkan seni tradisi kepada khalayak yang lebih luas, komunitas “Rukun Pewaras” dengan sadar mencoba mendekonstruksi bahasa (dari bahasa Madura ke bahasa Indonesia), durasi (dari semalaman menjadi satu-dua jam, bahkan lima belas menit), dan cerita (dari pakem menjadi carangan-temporary) sebagai usaha menyingkapi modernisasi dan kemajuan teknologi dengan masyarakat yang cenderung hedonis, serba instant, dan hidup dalam mobilitas yang tinggi

Di tengah tatanan masyarakat seperti ini, seni tradisi dengan pola lama akan sulit bertahan mengingat terbatasnya waktu dan ruang yang tersedia dan sikap hidup masyarakat yang termanjakan oleh kemudahan teknologi. Hanya seni tradisi yang mampu mengaktualisasi dirinya dan lentur dalam mengimbangi perkembangan jamanlah yang mampu bertahan meski tidak harus terjebak dalam kitsch ketika misalnya dipentaskan di hotel-hotel atau demi kepentingan pariwisata.

Seni tradisi bagi saya, akan senantiasa dapat memainkan perannya yang konstruktif demi ide-ide baru bagi perkembangan. Masalahnya adalah seberapa jauh tingkat adaptasinya dari unsur-unsur lama bagi perkembangan baru tersebut dan berapa lentur nilai estetika baru itu menjadi ide ketika seni tradisi dipisahkan dari kesatuan kosmosnya.

Ada banyak alasan untuk mempersoalkan kemurnian tradisi, tetapi tidak serta-merta menjadikannya barang mati. Asumsi yang mengganggap sesuatu yang baru, dekat pengaruh dari luar tradisi dan dipahami sebagai kemajuan ketika berbenturan dengan sumbernya memang sering menimbulkan konfrontasi lantaran kekurangan kenal dari referensi seni itu sendiri, di samping seni tersebut terlanjur menjadi barang jiplakan terus-menerus.

Seni sebagai salah satu unsur kebudayaan dalam narasi yang lebih besar tak seharusnya mandek sementara kebudayaan itu terus mengalami perkembangan seiring dengan jaman. Sumber-sumber tradisi harus memilih, tinggal dalam kegagapan mencari identitas semu atau mengaitkan diri dengan perubahan dunia dan karena itu tak minder menyejajarkan diri dengan seni tradisi di belahan bumi mana saja, serta arif dan kreatif memanfaatkan sumber-sumber tradisi di mana pun sebagai ide penciptaan maupun pemaknaan yang segar.***

* Penulis adalah cerpenis, belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Congngo'lah...

Alalabang, Revitalisasi Seni Tradisi Lisan

Oleh: Hidayat Raharja

Alalabang, merupakan salah satu bentuk revitalisasi yang dilakukan untuk mengemas seni pertunjukan dengan mengelola tradisi lisan yang ada di Sumenep. Pertunjukan seni tradisi yang berhasil lolos seleksi untuk mewakii jawa timur ke forum festival seni tradisi se Asia di jakarta pada tanggal 1-4 Desember 2006.

Alalabang, berasal dari kata labang, berarti pintu. Dimaksudkan pertunjukan seni tradisi di Sumenep (Topeng Dhalang) pada mulanya bentuk pertunjukan dari pintu ke pintu atau di undang untuk mendatangi rumah yang punya hajat. Kerapkali undangan tanggapan datang ketika rombongan topeng tengah mentas di suatu rumah untuk pentas ke rumah yang lain. Pengundang tidak mendatangi rumah Dalang tetapi mendatangi rumah yang punya hajat pada saat itu. Konsep inilah yang melatarbelakangi untuk merevitalisasi seni pertunjukan tradisi lisan, Alalabang.

Dalam konsep revitalisasi pertunjukan seni tradisi lisan Alalabang, mengambil tiga unsur seni tradisi; sastra lisan (macopat), Solo’an, dan Topeng Dhalang sementara seni modern yang dipadukan berupa “Tari Mothak” (tari monyet). Konsep garapan yang dipadukan antara kelisanan dengan teater yang keduanya saling menguatkan, panggung memvisualisasikan teks yang dibacakan dalang. Pertunjukan alalabang, mengambil amsal Rokat Bujuk dengan menganalogikan panggung sebagai “bujuk”. Jadi awal pertunjukan dimulai di luar panggung menuju ke panggung, yang dimisalkan sebagai bujuk.

Pertunjukan yang dilakukan di pendapa keraton Sumenep pada tanggal 21 Nopember 2006, malam hari. Suara saronen melengking diiringi suara tabuhan kennong telo’ dan suara kendang lengkingan mengusik perhatian penonton dan semua pandangan tertuju ke luar panggung Suara penembang memecah suara gamelan sambil berjalan menuju ke arena.

Namen lorkong tombu labu/ Bungkana e temor daja/ sakalangkong mon padha rabhu/ mon bungana tada’ padha//

Mon serena sere koneng/ roko’ eskot telena mera/ mon serrena kaula ta’ oneng/sala lopot nyo’on sapora//

Gagambang kaju angsana/ bilis getel eranca’na/ etembang sola tengkana/ sakeng neser eoca’na//

(Nanam ubi tumbuh labu/ pohonnya di tenggara/ terimakasih pada hadirin yang datang/ rasa bahagia tak terkira//

Kalau sirihnya sirih kuning/ rokok eskot tali merah/ karena sebab saya tidak tahu/ salah luputnya mohon dimaafkan//

Gambang kayu angsana/ semut gatal di cecabang/ dipikirkan polah tingkahnya/ karena iba di ucapnya//

Tetembangan terus mengalun dan di depan panggung, dalang mengambil perangkat “Bajang Pappa / atau Gelagar” sambil melantunkan tetembangan. Dalang terus bergerak menuju ke depan layar sambil memainkan sepasang wayang yang melambangkan K. Agung Barumbung dan Mothak Pote/ Kera putih. Suatu awal pengisahan yang diambil dari cerita lisan masyarakat Bun-Bara’ kecamatan Ru-Baru Sumenep. Konon, pada masa itu Kiai Agung Barumbung sebagai ulama memiliki beberapa orang santri dan salah satu peliharaannya adalah seekor kera yang amat taat kepadanya. Pada suatu hari kera putih ditugaskan untuk mengawasi lahan tanaman timun milik sang Kiai. Mendapat tughas tersebut, setiap malam kera berjaga-jaga supaya timun tidak diambil oleh pencuri. Namun, tiba muncul akal cerdik si kera dengan melabur (mengecat) buah mentimum dengan kapur putih sehingga seluruh buah mentimun yang semula berwarna hijau berubah menjadi putih. Konon pula menurut kisah, sejak saat itu timun yang berasal dari utara Sumenep (Rubaru) warnanya putih.

Cerita rakyat diangkat ke atas panggung kian menarik ketika divisualisasikan dalam bentuk wayang (bajang pappa/ gelagar), dan vusalisai ini makin diperkuat ketika akan mengalihkan cerita dari bajang pappa ke topeng dhalang, yaitu dengan gerakan tangan dalang yang tengah nmemainkan wayang pappa kera putih tertarik kuat ke depan layar dalam guncangan yang demikian kuat . Wayang pappa jatuh dan dari balik layar keluar peraga dengan kostum kera Anoman. Menari dan mengitari panggung.

Perpindahan adegan diperkuat dengan suara dalang dan paneges yang memperkenalkan kehadiran kera Anoman yang telah berhasil melaksanakan tugas dari Rama untuk mengantarkan cincin kepada Dewi Shinta. Tapi sampai di taman Argaloka, Anoman tak mau kembali ke Anglengka, melainkan tetap di taman Argaloka dan memporak-porandakannya. Kisah Anoman di taman Argaloka, merupakan fragmen kisah dalam kisah topeng dhalang. Saat Anoman berada di Argaloka, keberadaannya di ketahui oleh Trijata, dan jatuh cinta dengannya. Suara dalang dan paneges saling bersahut melantungkan tembang-tembang artate (kasmaran);

Sattanangga esassa’ah/esebbidda noro’ lorong/ ce’ emanna se tapesa’a/ kare abit along-polong//

Ser-keseran obi manis/ jang-lajangan daunna nangka/ ker-pekkeran sambi nangis /jangbajangan sanggu dika//

(sapu tangannya mau dicucci/ disobeki sepanjang jalan/ sungguh berat mau berpisah// karena telah lama tinggal bersama//

Ser-keseran ubi manis/layangan dari daun nangka/ kepikiran ingat sama dikau/ada bayangan disangka dikau//)

Percintaan Anoman dan Trijata diketahui oleh Indrajit, dan membuatnya iri. Indrajit dikeroyok oleh pasukan kera kemudian menghindar datang kembali bersama rombongan pasukan perangnya. Sehingga terjadilah perang antara pasukan Anoman dengan pasukan perang Indrajit. Pengisahan ini semakin menarik dengan peran kendali dalang dalam menjalin cerita . Pada bagian akhir cerita dalang menghentikan peperangan dan meminta semua pasukan perang membuka topengnya. Ketika mereka disuruh berhenti perang, pasukan tersebut menjawab mereka disuruh dalang.

******

Revitalisasi tradisi lisan yang dilakukan oleh Agus Suharjoko, alumni ISI Jogjakarta yang bertindak sebagai sutradara pementasan dan Ahmad Darus sebagai dalang merupakan hal yang amat menarik untuk ditelaah. Terobosan baru dilakukan dengan memadukan Macopat , Kejungan dan Topeng Dhalang serta munculnya “Bajang Pappa / bajang Gelagar”. Keberhasilan revitalisasi ini terbukti dengan terpilihnya untuk mewakili Jawa Timur di tingkat Asia dalam forum festival seni tradisi yang akan dilaksanakan di Jakarta.

Keberhasilan yang mencoba mengemas beberapa fragmen kisah yang berbeda dalam satu untaian cerita yang bergerak lentur, serta memasukkan permasalahan aktual dalam jalinan cerita. Hadirnya beberapa peraga perempuan dalam adegan topeng yang berstatus pelajar merupakan hal baru, karena selama ini pemain topeng semuanya laki-laki. Suatu revitalisasi untuk mendekatkan generasi muda dengan seni tradisi (topeng dhalang) dan Macopat. Konon, inovasi ini dapat diterima oleh pelaku dan tokoh topeng dalang di Sumenep, karena peraga perempuan tidak berada sebagai pemeran utama.

Untuk mengakrabkan seni tradisi lisan dengan anak muda merupakan sesuatu yang menarik, untuk menemukan aktualisasinya. Hal ini tentu dapat dilakukan dengan melakukan aktualisasi cerita sesuai dengan budaya anak muda. Keinginan yang sempat diharapkan oleh Agus Suharjoko, dengan melibatkan anak SMA terlibat dalam setiap kegiatan seni tradisi di Sumenep. Hal ini bukan hal yang sulit apabila kita menengok pada revitalisasi lenong dengan aneka bentuknya yang muncul di panggung televisi.

Sumenep, 22 Nopember 2006

*penulis adalah penyair, dan aktif dalam kajian seni tradisi madura
Congngo'lah...

Menilik Kembali Kesenian ALALABANG

Oleh : Mahwi Air Tawar
Majalah Kalimah, Edisi I Tahun I Juni 2008

Pulau Madura yang terletak di sebelah kota Surabaya, dihuni oleh suku bangsa Madura. Dan sebagai suku, sebagaimana suku-suku lainnya di Indonesia, Madura mempunya bahasa daerah tersendiri, yakni bahasa Madura.

Sebagaimana halnya suku-suku lain pulalah, Madura juga mempunyai beraneka ragam kesenian, ludruk, topeng dhalang (wayang wong), tandak, musik ghul-ghul dan lain-lain. Sampai sekarang jenis kesenian tradisi di atas sudah tak banyak diminati masyarakat Madura. Kesenian ludruk, topeng dhalang dan tandak yang biasa ditanggap pada saat-saat ada helat desa, pesta perkawinan, petik laut (selamatan pantai) dan sebagainya. Sebagaimana kebanyakan masyarakat tradisi di daerah-daerah lain, ketika ada pertunjukan rakyat : ludruk dan topeng dhalang (wayang). Maka, dapat dipastikan lokasi pertunjukan akan dipadati oleh penduduk yang ingin menonton. Ah itu dulu. Namun kini ?

Ya, belakangan, jarang kita temui pertunjukan ludruk, topeng dhalang, terkecuali tandak yang masih menyisahkan banyak peminat, penonton, dan yang lebih ironis lagi, sebuah pergelaran tradisi yang kehadirannya dulu senantiasa membuat setip masyarakat menunggu diambang pintu, begitu mendengar dari jauh alunan gending, tetambang, sastra yang dikidungkan, tarian rakyatnya yang memukau. Aduhai, Huha..., ”bersihkan halaman rumah, sebentar lagi rombongan alalabang datang”. Begitu masyarakat menyambut, rombongan kesenian yang melibatkan beberapa unsur kesenian; topeng dhalang, macapat dan tandak.

Alalabang (Madura), artinya datang dari pintu ke pintu. Jenis kesenian yang menyajikan sastra lisan dari satu rumah ke rumah yang lain. Bentuk keseniannya bermacam-macam ada yang menyanyi tanpa iring-iringan musik, ada juga melantunkan syair-syair agama dengan pukulan 3 buah gendhang rebana, dan ada berupa rombongan anak-anak kecil, 2 anak di depan berpakaian pengantin sedang yang lainnya bertindak sebagai penyanyi cilik. Masing-masing wilayah mempunyai bentuk alalabang yang berbeda. Lebih-lebih rombongan alalabang, akan banyak menyedot penonton, ketika para rombongan itu membawakan sebuah kesenian topeng dhalang.

Pada musim panen kesenian ini akan ramai mendapat undangan untuk unjuk kebolehannya, karena saat itu masyarakat pedesaan bersuka ria atas nikmat yang dikarunia Tuhan. Biasanya jauh sebelum kesenian alalabang ini didatangkan, masyarakat menyelenggarakan acara tasyakuran, dengan mendatangkan beberapa tokoh masyarakat dan agama, untuk turut berdoa serta bersyukur atas hasil penen yang melimpah, dan dalam hal ini mereka menyebutnya along-polong hingga beberapa hari berselang, didatangkanlah jenis kesenian alalabang.

Kini, seiring dengan perkembangan, kesenian ini sudah punah keberadaannya, akan tetapi bukan berarti helat pesta ditiadakan oleh masyarakat petani, nelayan. Tidak, mereka tetap menghelat acara serupa. Namun, bila dulu mereka menganggap kesenian tradisi, tapi sekarang mereka lebih suka menggelar acara kesenian yang lebih modern, yakni dangdutan! Tentu, dengan nuansa yang berbeda.

Maka untuk melestarikannya perlu direvitalisasi. Dua tahun belakangan, sejak bulan desember 2006 hinga bulan juni 2007, beberapa seniman asal Sumenep, Madura, yaitu Agus Suharjoko, Ahmad Darus dan kelompok Lembaga Tanah Kapur Sumenep, menggelar pertunjukan alalabang di 5 kota, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Malang dan terakhir di gedung Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, yan berlangsung pada tanggal 17 Juni 2007.

Pertunjukan yang kental dengan tradisi lisan ini ditampilkan dengan dukungan gamelan, saronen, sastra lisan (macapat), tarian topeng diolah menjadi pertunjukan., yang sudah berbeda bentuknya dengan alalabang yang dulu. Tetapi, nunsa Maduranya yang menjadi inspirasi serta clurit yang menjadi spirit masyarakat Madura sendiri tetap dipertahankan.

Pertunjukan dibuka dengan tarian gambuh, dengan mengangkat sebuah cerita wayang dikombinasikan dengan cerita kehidupan masyarakat Madura.

Bermula dari sebuah negeri bernama Solo Salemar dengan kehidupan masyarakatnya yang gemah ripa loh jinawi, namun secara tiba-tiba mendapat serangan dari kerajaan Atas Angin yang bersikap keras dan kasar, beringas dan mereka memporakporandakan kehidupan masyarakat Polo Salemar yang tengah menikmati panen. Peperangan tak terelakkan. Kehidupan Polo Salemar tidak aman lagi. Maka, raja Polo Salemar segera meminta bantuan raja Baladewa. Atas saran raja Baadewa, agar raja Polo Salemar menyerahan sepenuhnya pada kekuatan rakyatnya dan memohon petunjuk kepada Yang Maha Agung. Raja Polo Salemar, hari itu juga memerintahkan seluruh penduduknya untuk mempersiapkan diri memukul mundur pasukan Atas Angin. Persiapan dilakukan dan berkat solidaritas yang tinggi serta atas ijin Yang Maha Agung, pasukan Atas Angin dapat dipukul mundur dan negeri Polo Salemar kembali gemah ripa loh jinawi.

Pertunjukan ini diakhiri dengan tarian gambuh. Serta tarian yang mencerminkan keharmonisan kehidupan masyarakat Madura, serta makna filosofi dari celurit yang selama ini oleh banyak kalangan, celurit dianggap hanya semata-mata sebagai alat untuk membunuh. Ya, clurit yang selama ini hanya dipandang sebelah mata oleh banyak orang, yakni sebagai perlambang kekerasan masyarakat Madura. Maka, dalam pertunjukan alalabang itu, kian jelas makna sebenarnya, bahwa celurit bukanlah alat untuk membunuh, melainkan dari balik ketajaman celurit itu, terdapat makna spirit masyarakat setempat dalam berbuat sesuatu, agar selalu siap menghadapi hidup. Tidak menyerah pada tugas dalam kondisi apapun sebelum tugas diselesaikan.

Pementasan alalabang sengaja mengambil kisah dari cerita wayang dipadu dengan cerita masyarakat Madura. Dua cerita yang berbeda, namun meskipun dalam pertunjukan ini berasal dari dua cerita yang berlainan, tapi tetap ada yang menjadi benag merah, yaitu kekerasan raja Atas Angin saat menyerang Polo Salemar dengan anggapan miring terhadap kekerasan masyarakat Madura, dalam pertunjukan ini menjadi sesuatu yang unik dan menarik.

Sebagaimana beberapa tahun silam, bahwa alalabang akan lebih banyak menyedot penonton, ketika dalam alalabang itu diisi dengan pertunjukan topeng dhalang.meski tak pelak lagi. Ketika seniman tradisi Sumenep, Madura itu dalam karyanya mengambil ide garap, jenis kesenian tradisi topeng dhalang dipadu dengan bentuk kesenian modern, seperti teater, tarian kontemporer. Tentulah bentuk kesenian modern disajikan dalam pertunjukan alalabang, dalah sebagai upaya merawat kesenian tradisi yang masih mungkin dikembangkan, disamping belakangan kesenian tradisi sudah jarang diminati oleh masyarakat lebih-lebih generasi muda yang kian acuh dan tak mau tahu terhadap budayanya sendiri.

Sebagaimana dikemukakan budayawan asala Madura, D. Zawawi Imron, ketika kesenian alalabang ini dipentaskan di TIM, 11/6. pada era globalisasi, adanya media elektronik, televisi, VCD dan lain-lain, serbuan kebudayaan asing menjadi sulit untuk dielakkan. Kebudayaan asing memang bukan musuh, tetapi mempertahankan budaya bangsa, sebagai identitas merupakan perjuangan, ungkap D. Zawawi Imron. Itu artinya kebudayaan dan kesenian yang sehat, ialah yang sanggup bersaing dalam era globalisasi. Untuk itu diperlukan upaya kreatif dalam menjawab tantangan, menghidupkan kembali seni tradisi yang berisi semangat baru, nafas baru, dan warna baru sehingga bisa bersaing dengan kesenian-kesenian yang ada di seluruh pelosok bumi.

Maka, dengan direvitalisasinya kesenian tradisi alalabang menjadi pertunjukan modern, adalah sebagai upaya agar masyarakat, lebih-lebih generasi sebagai penerus berminat tetap menjaga serta merawatnya, disamping agar kesenian tradisi tetap menjadi pertunjukan yang segar, tidak membosankan serta monoton. Meminjam ungkapan Slamet Subiyantoro: bukankah, seni tradisi pada dasarnya adalah seni yang tidak statis, karena keberadaannya secara faktual, dari generasi ke generasi selalu mengalami tahapan penyempurnaan yang mewakili zamannya. Penyempurnaan yang lebih adaptif dengan tuntutan masyarakat pendukung kesenian merupakan bagian penting dalam proses kemantapan seni tradisi itu sendiri. Sehingga, jenis kesenian tradisi akan terus diminati oleh generasi berikutnya, termasuk alalabang.

* Ketua Komite Kajian Seni dan Budaya Lembaga Tanah Kapur Sumenep, Madura.
Congngo'lah...

Alalabang Madura : Mengubur Pakem



Oleh : Mahwi Air Tawar
Surat Kabar Minggu Pagi, 11 Januari 2007

Pertunjukan topeng tradisi berdurasi 30 menitan itu, diawali dengan iring-iringan para aktor dan pemusik dari belakang penonton. Ketika sang dhalang menyenandungkan tetembangan diiringi musik yang dinamis, sontak para penonton yang memadati studio Teater Mini TIM Jakarta akhir 2006 itu terkesiap.

Pertunjukan bertajuk Alalabang (Madura) yang pernah dipentaskan di Gedung P dan K Jawa Timur dan Balai Sinta Yogyakarta ini, mengisahkan cerita rakyat, seekor kera putih yang berguru kepada Kyai Barumbung. Dan pada suatu ketika, Kyai Barumbung memerintah kepada Kera putih agar menjaga mentimun miliknya yang seringkali hilang. Karena kepatuhannya, kera putih ini setelah dewasa menjelma menjadi Anoman. Dan Anoman suatu saat menjadi duta ke Argaloka. Di Argaloka anoman tergoda oleh seorang wanita hingga membuat tersinggungnya warga Argaloka. Maka, terjadilah peperangan yang seru antara Anoman dengan Indrajit yang sama-sama melibatkan pengikutnya, termasuk kera putih.

Alalabang artinya datang dari pintu ke pintu. Sejenis kesenian yang datang untuk ditanggap oleh orang yang menyukainya. Kini kesenian itu sudah punah. Maka untuk melestarikan perlu direvitalisasi. Sutradara Agus Suharjoko dengan beberapa seniman tradisi mencoba menghidupkan kembali dengan diberi warna dan nafas baru.

Pertunjukan tradisi Alalabang, tentu saja berbeda dengan konsep seni tradisi yang sudah ada. Kalau sebelumnya, alalabang ini hanya dilakukan ketika ada acara-acara pesta dan upacara desa, kali ini oleh sutradara Agus Suharjoko, S.Sn, diramu menjadi sajian pertunjukan modern yang dikolaborasikan dengan unsur-unsur kesenian lainnya, sepeti tari, teater, tak luput juga sastra lisan (macapat).

Tentu saja digubahnya kesenian tradisi dengan unsur-unsur pertunjukan modern sebagai upaya agar kesenian tradisi tetap diminati serta dapat dinikmati oleh generasi yang seringkali acuh terhadap kesenian-kesenian tradisi. Sebab, bukan tidak mungkin, ditengah-tengah carut marutnya kebudayaan, serta semakin mencuatnya produk-produk asing yang menyebabkan generasi kita memalingkan muka terhadap produk-produk kita sendiri. Termasuk terhadap kesenian tradisi tidak lain sebagai upaya merawat warisan budaya yang masih mungkin menjadi identitas budaya kita.

Hal demikian sebenarnya pernah dilakukan oleh seniman tradisi Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto dari Solo. Namun kalau Ki Manteb Sudarono lebih pada teks, Agus Suharjoko (Alumnus ISI Yogyakarta) lebih pada bentuk gerak. Bukan berarti Agus ingin sepenuhnya menghilangkan konsep mutlak tradisi. Tapi, ia hanya ingin menyuarakan bahwa konsep tradisi bukanlah konsep paten yang tidak bisa digonta-ganti bentuknya.

Bukankah ditinggalkannya seni tradisi oleh peminatnya disebabkan bentuk kesenian itu sendiri yang statis? Sementara perkembangan terus beriring dengan warna-warni serba baru seiiring laju waktu yang tak mau kompromi. Lalu, sampai kapankah seni tradisi bernafas, ketika seniman tradisi hanya menggunakan konsep yang sama dari dulu hingga kini?

Kalau boleh saya bilang, bukan saatnya kesenian tradisi hanya melulu diidentifikasi dengan kepercayaan-kepercayaan tertentu, dengan bentuk-bentuk pertunjukan tradisi yang sudah semestinya diperbaharui. Tapi sebaliknya, saatnya seniman tradisi untuk terus mengikuti perkembangan, agar penciptaan keseniannya tidak statis dan tidak membosankan ketika dijadikan tontonan. Dan yang lebih penting, seniman harus mau berkompromi dengan selera penonton yang cendrung menginginkan sesuatu yang instan, agar kesenian tradisi tidak ditinggalkan. Mengutip pernyataan budayawan dan penyair D. Zawawi Imron, bahwa budaya asing bukan musuh, tetapi menghidupkan warisan budaya adalah tanggung jawab para generasi penerus.

Lebih jauh mencermati, esensi seni tradisi bukanlah seni yang purna atau seni yang sama sekali tidak bisa berubah atau tetap dalam pengertian mati (static). Sebagaimana yang ditulis Slamet Subiyantoro, bahwa, seni tradisi pada dasarnya adalah seni yang tidak statis, karena keberadaannya secara faktual, dari generasi ke generasi selalu mengalami tahapan penyempurnaan yang mewakili zamannya. Penyempurnaan yang lebih adaptif dengan tuntutan masyarakat pendukung kesenian merupakan bagian penting dalam proses kemantapan seni tradisi itu sendiri, sehingga seni tradisi semestinya harus dimaknai sebagai seni yang dinamis (dinamic art) dalam pengertian seni yang senantiasa membuka diri terhadap kemungkinan perubahan-perubahan (adaptive art), baik bentuk maupun fungsinya.

Pertunjukan alalabang yang disutradarai Agus Suharjoko, telah berhsil meramu berbagai unsur kesenian, merupakan satu upaya melakukan aktualisasi seni tradisi dengan memadukannya dengan konsep seni modern. Agus berhasil mengumpamakan panggung sebagai ruang yang bebas ekspresi, hingga siapapun yang menontonnya dapat menikmati hingga pertunjukan tuntas.
Congngo'lah...

ALALABANG : Madura, Tradisi + Modern



Oleh : Evi Idawati
Surat Kabar Minggu Pagi, 1 oktober 2006

Panggung dengan dominasi warna merah dan hitam tergelar, irama gamelan mengalun memenuhi ruangan. Iring-iringan dipimpin oleh dalang dengan langkah khusuk berjalan pelan menuju rokat somber (tempat wingit). Sepertinya sebuah upacara akan dimulai. Tak ada yang bersuara, masing-masing asyik dengan pikiran dan perasaannya. Dengan membawa wayang rumput, dalang memimpin rombongan. Saat tiba di tempat, para pelaku menempatkan diri, dhalang menancapkan wayang, musik belum berhenti. Sebuah kisah dihamparkan, mengawali malam.

Lalu tetembangan diperdengarkan, legenda asal-usul timun putih yang merupakan buah mentimun khas Sumenep dilantunkan. Konon, dulu mentimun berwarna hijau, tumbuh di dalam tanah. Ke (kyai) Agung Karamat, seorang ulama yang tinggal di mata air (Barumbung) menugaskan seekor kera putih (mothak pote) untuk menjaganya, agar tidak dicuri atau dimangsa hewan lainnya. Kera putih punya akal mengeluarkan semua mentimun itu dari dalam tanah. Memberi warna dengan kapur putih sehingga mudah terlihat meskipun malam hari. Kebun mentimun aman dari pencurian, hingga akhirnya mentimun yang semula berwarna hijau, berubah menjadi putih khas dari Sumenep sampai sekarang.

Itulah bagian pertama kisah yang diangkat oleh Agus Suharjoko, S.Sn, sebagai sutradara, mengawali festival Seni Tradisi Lisan yang diselenggarakan di Yogyakarta beberapa hari lalu. Pertunjukan masih belum selesai sampai disitu, saat babak kedua ditampilkan tentang sejarah Klana Tanjung Seta yaitu tentang kelahiran manusia dengan berbagai nafsunya. Ada manusia yang berhati mulia meski berwujud seekor kera, bernama Hanoman. Yang menjalankan tugas Rama, mengantarkan cincin untuk Dewi Sinta. Hanoman tak sekedar bertugas, namun juga ingin merusak taman Argasoka. Muncullah Trijata, putra Gunawan Wibisana yang was-was terhadap Hanoman, sekaligus jatuh hati padanya. Hanoman berusaha setia dengan tugasnya, tetap ingin merusak taman. Sampai akhirnya muncul Indrajit putra Rahwana yang mencegah dan melawan Hanoman. Perang diantara keduanya tak terelakkan.

Tiga komposisi yang ditampilkan malam itu, terasa sekejap dan memikat. Agus sengaja tidak membiarkan penonton jenuh dan berlama-lama. Jika melihat teks aslinya yang enam jam dan dipadatkan dalam waktu tiga puluh menit, sebagai sutradara Agus sadar harus menampilkan momen-momen istimewah. Dengan penggarapan dengan menggunakan konsep teater modern, seni tradisi yang meliputi mamaca, topeng dhalang dan wayang rumput terkolaborasi dengan manis.

Padahal ketiganya adalah komposisi yang berbeda dan tidak berhubungan satu dengan yang lain. Tetapi ditangan Agus ketiganya tersaji dalam tigapuluh menit yang mengesankan. Bagi penonton yang tidak mengerti bahasa Madura pun, irama yang ditampilkan saat pembacaan mamaca (macapat) bisa dinikmati. Perpaduan dhalang dan penegas (panegges) yang melagukan kisah dengan variasi pembacaan dan stressing pada kata-kata tertentu, mengingatkan saya pada kolaborasi pembacaan puisi modern. Nada-nada suara dimainkan, tinggi dan rendahnya dimaksimalkan. Saya terhenyak ketika riuh peperangan dihentikan dengan melepaskan topeng-topeng yang dikenakan. Dengan terompet yang berbunyi, mereka berdiri menari seperti sebuah karnaval, mereka berbaris, pawai dan pulang. Wajah sumringah terpancar dari muka mereka.

Opening dan closing yang berbeda, nuansa yang disuguhkan tidak sama. Tapi bahwa pertunjukan rakyat sangat kental sekali dengan pesta pora sengaja dikedepankan oleh Agus. Tehnik muncul dari masing-masing pemeran dengan memanfaatkan kain merah yang terbentang, menandakan detil yang tergarap. Tidak hanya itu, bagaimana riuh tepuk tangan penonton yang tidak begitu banyak itu bisa menjadi penanda bahwa malam itu acara ngamen yang dikomandani oleh Agus sukses dan menarik.

Alalabang menyajikan ritual keagamaan dan hiburan. Ketika seni diusung dan ditampilkan faktor terakhir menempati posisi penting. Sebagai hiburan alalabang mengena, gerak, musik dan lagu memenuhi ruangan. Untuk ritual keagamaan, pesan-pesannya tersampaikan. Pertunjukan yang berdurasi tigapuluh menit itu, terasa menghentak dan sekejap.

Barangkali kita memang mulai harus mengemas sastra lisan kita yang merupakan tradisi dan aset luar biasa bangsa kita, menjadi sebuah pertunjukan yang bervariasi, untuk memberi nuansa yang berbeda. Dengan sentuhan modern dan kolaborasi dengan berbagai unsur seni, saya yakin akan ada banyak hal yang bisa dimunculkan dan memberi warna bagi perkembangan dunia pertunjukan kita.
Congngo'lah...

Selasa, 08 September 2009

Sosialisasi : FK METRA

Forum Komunikasi Media Tradisional


Dasar Pertimbangan

1. Bahwa seni budaya tradisional bangsa Indonesia adalah merupakan warisan budya yang mengandung nilai-nilai luhur serta nilai seni yang tiada duanya, karena wajib dilestarikan, dikembangkan, dan diberdayakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan Negera Kesatuan Republik Indonesia.
2. Bahwa seni budaya tradisional yang merupakan pertunjukan rakyat pada umunya adalahkesenian tradisional yang dipentaskan di depan khalayak gterutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif dan dua arah, sehingga bentuk kesenian tersebut juga dapat menjadi sarana pendidikan, kontrol sosial dan sarana penyampaian informasi.
3. Bahwa dalam proses komunikasi sosial dua arah untuk penyebaran informasi kebijakan pemerintah kepada masyarakat terutama di pedesaan, maka peranan media tradisional sangat penting dan strategis. Melalui aktualisasi dan revitalisasi media tradisional yang sarat dengan kearifan lokal, maka partisipasi masyarakat terhadap program pemerintah semakin kuat. Oleh karena itu media tradisional dapat menjadi kelompok strategis sebagai mitra pemerintah, baik di pusat maupun daerah guna memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa, sehingga media tradisional dapat dikembangkan untuk menjadi perekat kesatuan wilayah yang amat luas.
4. Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, dihuni berbagai suku dengan budaya yang beraneka ragam dan berbicara dengan berbagai bahasa kondisinya adalah 80% berada di pedesaan, 20% hidup diperkotaaan. Dari 80% penduduk dipedesaan yang menerima informasi sejumlah 20% dan 20% penduduk perkotaan yang menerima informasi 80%, maka sebagian besar penduduk Indonesia dalam memperoleh informasi masih menggunakan media tradisional dan salah satunya dengan pertunjukan rakyat.
5. Bahwa mengingat sangat strategisnya fungsi dan peran media tradisional dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka pada 23 s/d 26 juni 2003 di Jakarta Kementrian Komunikasi dan Informasi melaksanakan acara ”Fasilitas Pencerahan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Pemberdayaan dan Peningkatan Pemanfaatan Peran Komunikasi Media Tradisional”, dengan naras sumber Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Dalam Negeri, pakar seni dan Budayawan, diikuti oleh unsur komunitas Media Tradisional dan Instansi Pemerintah Pusat dan Propinsi seluruh Indonesia.
6. Bahwa tanggal 26 juni 2007 seniman, budayawan, dan komunitas seni budaya tradisional dan media tradisional peserta “Fasilitas Pencerahan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Pemberdayaan dan Peningkatan Pemanfaatan Peran Komunikasi Media Tradisional”, mendeklarasikan lahirnya “Forum Komunikasi Media Tradisional” (FK-METRA) sebagai wadah berhimpun Komunitas Media Tradisional, pemerhati, pelaku dan pencinta seni Budaya Tradisional.
7. Bahwa peserta Fasilitas Pencerahan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat dalam Pemberdayaan dan Peningkatan Pemanfaatan Peran Komunikasi Media Tradisional”, sepakat mempertahankan kelestarian seni tradisional dalam bingkai budaya nasional sebagai hasil cipta, rasa, karsa dan karya leluhur bagsa adalah untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, sebagai sumber motivasi dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya sebagai khasanah kekayaan dan jitidiri bagsa.
8. Bahwa Rapat Kerja Nasional FK-METRA tahun 2007 menetapkan kebijakan, Forum Komunikasi Media Tradisional sebagai norganisasi yang merakyat dan memasyarakat senantiasa bermitra dengan pemerintah dalam menyampaikan informasi pembangunan dan kemasyarakatan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam rangka mewujudkan bangsa Indonesia yang bermrtabat, berbudi luhur dan berbudaya.
9. Bahwa dalam Rapat Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Media Tradisional tahun 2009 di Malang menyimpulkan bahwa pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan Seni Budaya Tradisional termasuk Media Tradisional memerlukan landasan hukum yang dapat mengikat seluruh warga negara Republik Indonesia.


Rekomendasi

Bahwa berdasarkan Pertimbangangan tersebut diatas Rapat Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Media Tradsional tahun 2009, merekomendasikan :
”Agar Pemerintah melalu Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Dalam Negeri dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta instansi terkait lainnya melakukan koordinasi guna merumuskan Rancangan Undang-Undang Pelestarian, Pengembangan dan Pemberdayaan Seni Budaya Tradisional dan Pertunjukan Rakyat sebagai Media Tradisional”, dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata berperan dalam pemberdayaan dan pelestarian seni budaya tradisional melalui penyediaan fasilitas, sarana dan kebijakan dalam rangka promosi budaya untuk pariwisata.
2. Menteri Komunikasi dan Informatika berperan dalam pemberdayaan dan pemanfaatan seni budaya tradisional sebagai media dengan bentuk pertunjukan rakyat dalam rangka desiminasi informasi publik.
3. Menteri Pendidikan Nasional berperan dalam pemberdayaan, pengkajian dan penelitian seni budaya tradisional melalui jalur pendidikan formal dan informal dalam rangka membentuk budi pekerti dan karakter bangsa.
4. Menteri Dalam Negeri melakukan upaya agar para gubernur, bupati/walikota berperan dalam pengembangan dan pemberdayaan seni budaya tradisional sebagai media perekat persatuan dan kesatuan bangsa melalui penetapan kebijakan penguatan seni budaya tradisional.
5. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi berperan dalam pengembangan pemberdayaan dan perlindungan para pekerja seni budaya tradisional sebagai pekerja informal.

Demikian Rekomendasi ini dibuat sebagai bahan acuan pembentukan dan perumusan Rancangan Undang-Undang Pelestarian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Seni Budaya Tradisional dan Pertunjukan Rakyat sebagai Media Tradisional.



SUSUNAN PENGURUS FORUM KOMUNIKASI
MEDI TRADISIONAL PROPINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2009

I. PEMBINA : 1. Gubernur Jawa Timur
2. Kepala Dinas Kominfo Propinsi Jawa Timur
3. Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Propinsi Jawa
Timur
4. Kepala Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Timur

II. KETUA : Drs. Suko Widodo, MA

III. SEKRETARIS : Dra. Roestiningsih, MM

IV. BENDAHARA : Dewi Mariza, S.Sos.

V. BIDANG ORGANISASI DAN TATA LAKSANA : Cahyono Yudiatmaji

VI. BIDANG SUMBER DAYA MANUSIA : Drs. Suwarmin

VII. BIDANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN : Agung Budi Nugroho, S.Pd.

VIII. BIDANG SENI BUDAYA : Subiyantoro

IX. KOORDINATOR WILAYAH :
- BAKORWIL I (MADIUN) : Luhur Sejati, M.Si.
- BAKORWIL II (BOJONEGORO) : Sariono, S.Sn.
- BAKORWIL III (MALANG) : Drs. Lego Suprapto
- BAKORWIL IV (PAMEKASAN) : Agus Suharjoko, S.Sn.
Congngo'lah...

TEATER... (Terkungkungkah engkau ?...)




Aku mencari mau,
Namun tiada yang kudapat.

Aku meminta tau,
Hanya pertanyaan yang terlempar.

Ku ingin kau bebaskanku,
Lalu akupun terdampar pada kegetiran yang dalam.

Judul tulisan ini mungkin akan menggelitik kita tentang siapa yang mengungkung engkau. Pertanyaan bagi kita semua, benarkah kita terkungkung dalam aktivitas berkesenian yang sedang kita jajaki menuju pada keinginan atau pemenuhan ruang idealisme kita. Lalu mengapa kita merasa terkungkung saat kita tidak merasa terbebani oleh idealisme agar kita ”ada” atau ”tiada” diantara ramainya persaingan eksistensi berkesenian. Maka hemat saya lakukanlah apa yang akan kita kerjakan dengan ketulusan dan menghargai ide dan kreativitas kita tanpa merasa diri kita terkungkung untuk menghidupi kreativitas berkesenian. Namun lebih jauh lagi istilah terkungkung disini, hanyalah pembatasan ruang gerak kita dan arah langkah kita menghadapi situasi dan kondisi yang sedang kita alami. Menerima situasi dan kondisi tersebut memang sangatlah menyakitkan saat kita mengalaminya sendiri, jelas disini dibutuhkan respon dan kehendak untuk melakukan rutinitas pembebasan agar kita tetap melakukan proses kreativitas.

Kemunculan seni sebagai nilai pembebasan pada dasarnya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan boleh dikatakan, pada dasarnya hakekat seni adalah pembebasan. Kata ”pembebasan” lawan dari kata terkungkung, ternyata dari jaman ke jaman memiliki pengertian dan makna yang berbeda-beda, sesuai dengan konteks dan bentuk penindasan dan ketidakadilan pada jamannya. Demikian halnya Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis yang meletakkan dasar ”pendidikan bagi kaum tertindas” asal Brasil itu, memberikan makna pembebasan lebih ditekankan pada kebangkitan kesadaran kritis masyarakat. Bagi Freire, mengungkapkan hakekat ”pembebasan” adalah suatu proses bangkitnya ”kesadaran kritis” rakyat terhadap sistem dan struktur sosial yang menindas. Tema pokok gagasan Freire sesungguhnya mengacu pada landasan keyakinan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan ”proses memanusiakan manusia kembali”. Pendidikan sebagaimana dipraktekkan di sekolah-sekolah, ternyata justru menjadi bagian dari sistem masyarakat yang melanggengkan proses tidak memanusiakan manusia, manusia dijadikan mesin tanpa mampu membangkitkan kesadaran kritis terhadap dirinya dan bahkan terhadap lingkungan sosialnya.

Apakah aku harus menjadi benalu,
Diantara pokok-pokok dedaunan
Yang tak mampu lagi,
Mengatakan kebenaran,
Diantara kebenaran matahari yang kucari.
...

Teater pembebasan sesungguhnya telah dikembangkan oleh Bertolt Brech (1898-1956), seorang penulis dan teoritisi teater. Seabad kemudian tradisi teater pembebasan dan karya Brech tersebut mulai dipentaskan oleh Augusto Boal di Amerika Latin pada tahun 70-an dalam konteks pembebasan. Jika Paulo Freire mengembangkan pendidikan untuk kaum tertindas, maka Boal mempelopori suatu teater pembebasan bagi kaum tertindas, suatu eksperimen teater yang dimulai dengan melibatkan rakyat miskin yang tinggal di daerah kumuh di kota-kota besar. Seni teater, dengan demikian telah dtransformasikan dari suatu teater yang diciptakan oleh para seniman yang mengangkat cerita dari kisah penindasan rakyat jelata dan dimainkan oleh para seniman profesional untuk menjadi suguhan teater yang berkualitas, menjadi teater yang dikembangkan, dimainkan serta disajikan oleh dan kepada rakyat sendiri. Maka seni teater berfungsi menjadi media bagi rakyat untuk melakukan studi tentang sistem yang memarginalkan mereka. Teater juga menjadi media pendidikan populer.

Salah satu implikasi praksis teater pembebasan ini adalah, teater tidak sekedar menjadi tontonan melainkan senantiasa mendorong pada aksi atau tindakan pemecahan masalah dan berakibat pada usaha perubahan sosial. Dengan bermunculannya seniman-seniman kritis dan kelompok-kelompok teater kritis pada masa otoriter jaman orde baru, dapat kita sebut Emha Ainun Najib (teater Dinasti dan komunitas Kyai Kanjeng), Butet Kertarajasa, Djaduk Ferianto (teater Gandrik) N. Riantiarno (teater Koma), teater Buruh, Ratna Sarumpaet (Marsinah), Widji Tukul, Pramoedya Ananta Toer (sastra), Moelyono (perupa) dan banyak lagi yang lainnya telah merangsang bangkitnya resistensi dan semangat pembebasan terhadap penindasan rakyat kecil, hak asasi manusia dan demokrasi.

Kesenian kritis akan mendorong lingkungan budaya sosial politik yang demokratis. Kesenian kritis lebih lanjut akan melahirkan kesadaran dan budaya masyarakat yang menghargai hak asasi manusia. Namun pada kenyataannya hanya sistem sosial yang demokratis yang akan memberikan ruang kesenian pembebasan untuk berkembang. Sementara dalam sistem sosial politik yang otoriter dan totaliter dan merendahkan hak asasi manusia, kesenian dibunuh hakekat ”pembebasannya”. Dan seni yang kehilangan hakekat pembebasannya, pada dasarnya, telah mati. Oleh karena itu untuk mewujudkan sistem sosial politik demokratis, para seniman harus merebut ruang publik untuk mengekspresikan kebebasan mereka sekaligus membangkitkan kesadaran dan kebudayaan kritis masyarakat. Hanya dengan penciptaan ruang untuk ekspresi itulah suatu budaya masyarakat yang demokratis dapat diwujudkan.

Tak lagi kubilang iya,
Saat aku harus belajar mengatakan tidak,
Tak ada lagi mesin dan rumus-rumus,
Saat aku mampu menghitung dengan kebenaran yang kudapat.
...

(by. Agus suharjoko)
Congngo'lah...

KESENIAN ( Engkaukah itu?..... )




Setelah usai memperingati hari kejayaan..
Engkau diusung ke istana
Engkau disuguhkan kehadapan penguasa
Dan engkau diumumkan ke seantero bumi pertiwi
Bahwa engkau ada...
Bahwa engkau hidup..
Bahwa engkau bernafas...

Dan setelah itu...
Menggeliat antara hidup dan mati

...kesenian secara kontekstual berkaitan dengan berbagai bentuk kepentingan kehidupan budaya manusia, sehingga kesenian lebih cenderung bersifat multi fungsi. Posisi kesenian dalam wacana politik kenegaraan merupakan salah satu aset legitimasi politis bagi pembangunan negara. Oleh karena secara birokratis dilakukan penggalian serta pemberdayaan terhadap kesenian. Pemberdayaan yang mungkin dilakukan hanya sebagai sarana untuk melengkapi penderitaan kesenian itu sendiri (baca=seniman). Lalu sampai dimanakah langkah birokrasi melakukan pembinaan terhadap kesenian? Pertanyaan ini selalu berada dalam pusaran kegelisahan para seniman dan pengambil kebijakan itu sendiri. Pembinaan yang selama ini tak lebih dari pengawasan terhadap aktivitas senimannya itu sendiri dan mencoba untuk mengarahkan pendekatan konsep atau gagasan artistik seniman untuk kepentingan birokrasi. Seperti halnya pada masa orde baru, pendekatan tersebut sangatlah terasa sekali dimana seniman diminta untuk mematuhi sejubel aturan agar tidak bergesekan dengan kepentingan negara.

Kesenian sebagai aset legitimasi politis bagi pembangunan negara dapat diartikan kesenian dilekatkan pada tujuan pengukuhan politis kenegaraan (pemerintah) sebagai penguasa. Secara politis pemerintah menguasai kesenian sebagai simbol keagungan dan kebesaran kekuasaannya (pembinaannya), sehingga kesenian tampil secara mewah dan ekslusif dalam upacara kebesaran. Ini dapat kita lihat saat ada acara-acara resmi yang dihadiri oleh kalangan birokrasi (penguasa). Fenomena ini masih dapat kita lihat di derah-daerah dimana saat birokrasi mengadakan acara resmi atau mengadakan ivent hasil pembinaan kesenian, pasti yang ditampilkan adalah bentuk-bentuk kesenian yang eksklusif (tidak dapat kita pungkiri).

Konsekuensi logis fenomena tersebut, birokrasi (penguasa) mendukung sepenuhnya secara ekonomi, politik dan budaya terhadap seluruh unsur yang mendukung kesenian. Penguasa menjadi patron yang utama dalam mendukung kehidupan kesenian. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan kesenian sangat dipengaruhi oleh kekuatan pemerintah, politik, kekuasaan dan keyakinan. Dengan demikian sangatlah wajar apabila negara dan para penguasamembuat kebijakan-kebijakan tertentu untuk membina dan mengembangkan keseniansesuai dengan visi dan misi pemerintah atau bahkan kesenian harus sesuai dengan cita rasa dan selera para penguasa negara. Bahkan pemberdayaan seniman secara hegemonis selalu diarahkan pada praktik politik negara dan penguasa baik secara individu maupun kelompok. Dalam konteks tertentu pemerintah memberikan penghargaan kepada seniman atau kelompok kesenian yang dianggap berjasa dan berprestasi, juga emberikan hukuman kepada seniman dan kelompok seniman yang dianggap berbahaya bagi negara dan penguasa.

Helaan nafasmu...
Diantara dua sisi mata koin
Kadang terdampar dipadang yang tandus
Antara kemiskinan kreativitas
Dan kejayaan idealisme

Namun pilihan itu
Adalah sebuah kejujuran
Untuk aku dapat bersuara
...

Pada konteks tertentu interaksi sosial politik menyeret kesenian dalam posisi tidak memiliki kepentingannya sendiri secara murni. Kesenian dihadapkan pada realitas ruang dan zaman yang selalu menyudutkan kepentingan tumbuh dan berkembang secara kultural, dialogis dan alami.

Lalu...
Engkau berjalan
Terseok..
Lalu roboh
Dimakan masa silammu.

(by.agus suharjoko)
Congngo'lah...

Pengikut

 

TANAH KAPOR | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates